Oleh Mohamad Saidy Ismail
Cyberjaya University College of Medical Sciences
1.0 Pengertian Islam
Pengertian Islam dijelaskan oleh Allah s.w.t dalam firman-Nya dalam surah an-Nisa’, ayat 125)
“Dan siapakah yang lebih baik diinya dari orang yang menyerahkan
wajahnya (dirinya) kepada Allah, sedangkan dia berbuat ihsan dan
mengikuti din Ibrahim dengan hanya cenderung kepada Allah”.
Berpandukan kepada ayat ini (Abu `Urwah, 1988), maka Islam dapat diberi pengertian sebagai: “Penyerahan diri kepada Allah dengan penuh keikhlasan hati”. Bahkan inilah intipati dan keseluruhan makna Islam.
Islam dengan pengertian induk ini tidak hanya dikhususkan kepada manusia tetapi jua merangkumi segala kejadian di alam semerta seperti yang dijelaskan oleh al-Quran:
“Apakah selain dari din Allah yang mereka masih mencari-cari
sedangkan segala yang dilangit dan dibumi telah Islam (menyerah
diri) kepada-Nya dengan kerelaan hati dan terpaksa. Dan kepada-
Nya mereka akan dikembalikan”. (Ali-`Imran, 83)
Firman Allah lagi:
“Dan kepada Allah sujud segala yang dilangit dan dibumi
dengan kerelaan hati dan terpaksa, dan juga baying-bayang
mereka pada setiap pagi dan petang.” (Ar-Ra`d, 15)
Dari kedua-dua ayat di atas maka dapatlah disimpulkan bahawa pengertian Islam itu tersimpul pula dalam penyerahan diri kepada Allah. Penyerahan yang setepat-tepatnya di antara hubungan manusia dengan Penciptanya ialah sujud kepada Allah dengan penuh kepatuhan dan ketundukan. Oleh itu, jelas sekali di antara ketiga-tiga; ad-din, Islam dan sujud mempunyai kaitan dan jalinan makna yang erat dan tabi i.
Penyerahan diri ini tidak hanya terbatas kepada gerak laku anggota zahir sahaja tetapi juga merangkumi `amalan batin. Ini bererti penyerahan ini merangkumi jasmani dan ruhani, `aqal dan perasaan atau jiwa dan hati kepada Allah. Penyerahan ini tidak terbatas kepada sudut-sudut tertentu sahaja tetapi merangkumi segala ruang lingkup kehidupan manusia.
Ringkasnya penyerahan diri kepada Allah di sini merangkumi penyerahan diri kepada Allah dalam bidang `aqidah, `ibadah, akhlak dan akhirnya syari’at.
2.0 Islam dan Dasar Hidup Islam
Bagi menjelaskan peranan dan tujuan hidup manusia dalam konteks penyerahan diri di atas, Islam telah menggariskan beberapa dasar hidup yang dapat difahami seperti berikut:
2.1. Pencipta. Allah adalah Pencipta, Penguasa dan Pemilik `alam ini. Allah telah mencipta manusia dan menyediakanya tempat tinggal sementara di muka bumi. Allah telah mengurniakan `aqal kepada manusia untuk berfikir dan kemampuan untuk membezakan yang haq dan yang batil. Manusia diberikan kebebasan untuk berikhtiar dan memilih malahan kuasa untuk menggunakan sumber menurut cara yang disukainya.
2.2. Khalifah. Manusia telah ditugaskan untuk menjadi khalifah Allah (pentadbir dan pemakmur) di muka bumi. Oleh itu ia dituntut untuk beriman dan patuh kepada segala perintah dan peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh-Nya. Dengan `aqal, daya ikhtiar dan kemampuan memilih manusia bebas sama ada untuk beriman atau kufur kepada Allah. Tetapi Allah mengingatkan manusia bahawa tempat manusia di bumi ini tidak kekal. Bumi ini hanya tempat persediaan sahaja!
2.3. Para Ambiya’ Untuk membolehkan manusia melaksanakan tugasnya, maka Allah mengutuskan kepada manusia para rasul dan nabi-nabi beserta syari`at dan kitab-kitab sebagai panduan dan bimbingan hidup mereka. Rasulullah (s.a.w) adalah rasul yang terakhir, membawa syari`at dan kitab terakhir bagi panduan seluruh manusia hingga akhir zaman.
2.4. Dakwah. Manusia diperintahkan beriman kepada Rasulullah s.a.w. Ia dituntut untuk menyebarkan risalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w . Manusia yang beriman ditugaskan untuk menyeru manusia-manusia yang telah terseleweng untuk kembali kepada jalan yang benar. Manusia juga dituntut agar membina diri dan membangunkan seluruh masyarakatnya menurut ajaran yang ditunjukkan oleh Rasulullah s.a.w.
2.5. Kematian. Apabila tiba masanya manusia akan mati. Selepas itu, tiba masanya, seluruh `ala mini akan dibinasakan oleh Allah. Sebaik sahaja manausia dibangkitkan semula, manusia akan dikumpulkan untuk dihisab. Pada hari itu tahulah manusia tempat kediamannya yang sebenar di Akhirat.
Jelaslah, Islam telah meletakkan garis panduan yang tersusun rapid dan menetapkan hubungan yang jelas di antara manusia dan Penciptanya.
YANG MASIH PANAS...
MEMANG SEPERTI ITULAH DAKWAH
Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu.
Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu.. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai..
Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. . Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.. Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.
Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.
Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.
Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan. Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari.
Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”. Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada. Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.
Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..
Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yg takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang… “
Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta… Mengajak kita untuk terus berlari…
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
Memang seperti itulah dakwah.
Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu.. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai..
Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. . Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.. Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.
Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.
Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.
Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan. Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari.
Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”. Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada. Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.
Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..
Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yg takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang… “
Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta… Mengajak kita untuk terus berlari…
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
Memang seperti itulah dakwah.
Isu payu dara undang kritikan

بسم الله الرحمن الرحيم
RANCANGAN bual bicara WHI di TV3 membincangkan tajuk Salahkah besarkan payu dara? yang mengundang rasa kurang selesa penonton.
KUALA LUMPUR – Segmen bertajuk Salahkah besarkan payu dara? yang disiarkan dalam program Wanita Hari Ini (WHI) terbitan TV3 pada pukul 12 tengah hari semalam mengundang reaksi kurang senang pelbagai pihak di negara ini.
Kosmo! semalam menerima banyak panggilan daripada penonton yang rata-rata melahirkan rasa kurang selesa dengan tajuk dan cara segmen bual bicara itu diadakan.
Tinjauan di laman peminat rasmi program WHI di Facebook juga mendapati ramai yang tidak bersetuju topik itu dibincangkan secara terbuka.
Paparan visual yang memfokuskan kepada bentuk payu dara model-model yang lengkap berpakaian dalam laporan segmen tersebut juga dianggap tidak sesuai kerana ia ditonton oleh segenap lapisan masyarakat termasuk kanak-kanak.
Aksi nakal jurukamera TV3 yang didakwa sengaja memfokuskan kepada payu dara pengacara dan tetamu jemputan semasa segmen itu juga dikecam. -kosmo
SUMBER : BUJANG SUSAH
Biography of Shaykh al-Hadith, Muhammad Zakariyya Kandhlawi
In the last century, India has undoubtedly become an important center for the study of hadith, and the scholars of India have become well-known for their passion for religious knowledge.
Upon them ended the era of leadership in teaching hadiths, codification of the special fields [funun] of hadith, and commentary upon its texts [mutun]. Such was their mastery of this science that Muhammad Rashid Rida mentions in the introduction of his book Miftah Kunuz al-Sunnah, “Were it not for the superb attention to detail in the science of hadith displayed by our brothers, the scholars of India in the present era, this science would have withered away in the eastern cities. And, indeed, mastery of this science has been waning in Egypt and Syria since the tenth century AH.” There is no doubt that Shaykh Muhammad Zakariyya was among the most distinguished hadith scholars of India and a great contributor in the service of the Sunnah. He was given the honorary title of Shaykh al-Hadith, or “Great Scholar of Hadith,” by his teacher, Shaykh Khalil Ahmad Saharanpuri, who recognized his deep insight, clear-sightedness, and extensive knowledge of hadith and related sciences.
Lineage and Upbringing
He was born in the village of Kandhla (in Uttar Pradesh, India) on Ramadan 10, 1315 AH (February 12, 1898 CE). His full name was Muhammad Zakariyya ibn Muhammad Yahya ibn Muhammad Ismail, and his lineage continues all the way back to Abu Bakr, the great Companion of the Messenger (SallAllahu alaihi Wasallam).
Shaykh Abu al-Hasan Nadwi said about him, “Shaykh Muhammad Zakariyya was born into a household rooted in knowledge and passion for Islam. His immediate family and his predecessors were distinguished by firm resolve, perseverance, steadfastness, and adherence to religion…. His family included many notable scholars… and his grandmother memorized the entire Qur’an while nursing her son [Shaykh Zakariyya’s father].”
His father, Shaykh Muhammad Yahya, was among the great scholars of India, whose primary teacher in hadith was Shaykh Rashid Ahmad Gangohi. Under him he studied Sahih al-Bukhari, Jami al-Tirmidhi, and others of the six famous authentic books of hadith [sihah sitta]. Shaykh Yahya went on to teach at Madrasa Mazahir Ulum, in the district of Saharanpur, but did not accept any payment for his services. He instead made his living through his own book-publishing business.
As a young boy, Shaykh Zakariyya moved with his father to the village of Gangoh, in the district of Saharanpur. Since his father and Shaykh Gangohi had a close relationship, Shaykh Zakariyya quickly earned the affection of his father’s teacher.
Growing up in this virtuous environment, he began learning how to read with Hakim Abd al-Rahman of Muzaffarnagar. He memorized the Qur’an with his father and also studied books in Persian and the introductory Arabic books with his uncle Shaykh Muhammad Ilyas (founder of the Tabligh movement). He stayed with his father in the company of Shaykh Gangohi until age eight, when the shaykh passed away.
At the age of twelve, Shaykh Zakariyya traveled with his father to Mazahir Ulum, There, under his father, he advanced his study of Arabic, tackling many classical texts on Arabic morphology, grammar, literature and also logic. But by the time he was seventeen, hadith became the main focus of his life. He studied five of the six authentic books of hadith with his father, and then he studied Sahih al-Bukhari and Sunan al-Tirmidhi (for a second time) with honorable Shaykh Khalil Ahmad Saharanpuri. Out of his immense respect for hadith, Shaykh Zakariyya was extremely particular about always studying the hadith narrations with wudu’.
On Dhu ‘l-Qa’da 10, 1334 AH, when Shaykh Zakariyya was just nineteen, his dear father passed away. This event was extremely traumatic for Shaykh Zakariyya, as he lost not only a father but also a teacher and mentor. His deep sorrow remained with him for the rest of his life.
Teachers
Shaykh Zakariyya was blessed to live and learn in an era considered by many to be one of great achievements in Islamic knowledge by scholars in the Indian subcontinent. He studied with few but select teachers who reached the highest levels of learning, research, authorship, and piety. In addition to his father (Shaykh Muhammad Yahya) and uncle (Shaykh Muhammad Ilyas), he studied under the hadith scholar Khalil Ahmad Saharanpuri, author of the Badhl al-Majhud, a commentary of Sunan Abi Dawud. Shaykh Zakariyya acquired a hadith authorization from him and remained his student until Shaykh Khalil’s death in Madina Munawwara in 1346 AH.
Before his death, Shaykh Khalil Ahmad expressed his desire to write Badhl al-Majhud, and he sought Shaykh Zakariyya’s assistance as his right-hand man. This experience revealed Shaykh Zakariyya’s gift of penmanship and, furthermore, expanded his insight in the science of hadith. He worked hard on the project, attained the pleasure and trust of his shaykh, and was even mentioned by name in the commentary. This indeed opened the door to Shaykh Zakariyya’s authoring many literary works and treatises over the course of his life.
Teaching Career
In Muharram 1335 AH he was appointed as a teacher at Madrasa Mazahir Ulum, where he was assigned to teach books on Arabic grammar, morphology, and literature, as well as a number of primary texts of Islamic jurisprudence. In 1341 AH he was assigned to teach three sections of Sahih al-Bukhari upon the insistence of Shaykh Khalil Ahmad. He also taught Mishkat al-Masabih until 1344 AH. Shaykh Abu al-Hasan Nadwi said, “Although he was one of the youngest teachers at the school, he was selected to teach works generally not assigned to those of his age, nor to anyone in the early stages of his teaching career. Nevertheless, he showed that he was not only able, but an exceptional teacher.”
In 1345 AH he traveled to Madina Munawwara, the city of Allah’s Messenger, where he resided for one year. There he taught Sunan Abi Dawud at Madrasa al-Ulum al-Shar’iyya. While in Madina, he began working on Awjaz al-Masalik ila Muwatta Imam Malik, a commentary on Imam Malik’s Muwatta. He was twenty-nine at the time.
When he returned to India, he resumed teaching at Mazahir Ulum. He began teaching Sunan Abi Dawud, Sunan al-Nasai, the Muwatta of Imam Muhammad, and the second half of Sahih al-Bukhari. The school’s principle taught the first half of Sahih al-Bukhari, and after his death, Shaykh Zakariyya was given the honor of teaching the entire work.
In all, he taught the first half of Sahih al-Bukhari twenty-five times, the complete Sahih al-Bukhari sixteen times, and Sunan Abi Dawud thirty times. He did not just teach hadith as a matter of routine; the work of hadith had become his passion, and he put his heart and soul into it. Shaykh Zakariyya taught until 1388 AH, when he was forced to give up teaching after developing eye cataracts.
Travels to the Two Holy Cities
Allah blessed him with the opportunity to visit the two holy cities of Makka and Madina. He performed hajj several times, and his multiple trips had a profound personal effect on him, both spiritually and educationally. He made the blessed journey with Shaykh Khalil Ahmad in 1338 AH and with him again in 1344. It was during the second trip that Shaykh Khalil completed Badhl al-Majhud; he died shortly thereafter and was buried in the Baqi’ graveyard in Madina. May Allah have mercy on him and put light in his grave.
Sincere Love for Allah and the Prophet
Shaykh Muhammad Zakariyya inherited piety, honesty, and good character from his father (may Allah be pleased with him). He aspired to follow the Qur’an and Sunnah in all matters, big and small, with a passion not found in many scholars. He had extreme love for the Prophet and the blessed city of Madina. His students have related that whenever the death of the Messenger was mentioned during a lecture on Sunan Abi Dawud or Sahih al-Bukhari, his eyes would well up with tears, his voice would choke up, and he would be overcome with crying. So evocative were his tears that his students could do nothing but weep with raised voices.
He was often tested with regard to his sincerity. He was offered many teaching jobs at two or three times the salary that was customarily given at Mazahir ‘Ulum, but he always graciously declined the offers. For most of his teaching career, Shaykh Zakariyya never accepted any money for his services at Mazahir ‘Ulum; he did the work voluntarily, seeking Allah’s pleasure. Although he did accept a small salary at the beginning of his career, he later totaled up the amount and paid it back in its entirety.
Household
Shaykh Muhammad Zakariyya was married twice. He first married the daughter of Shaykh Ra’uf al-Hasan in Kandhla. She passed away on Dhu ‘l-Hijja 5 1355 AH. He then married the daughter of Shaykh Muhammad Ilyas Kandhlawi in 1356 AH. Allah blessed him with five daughters and three sons from his first wife, and two daughters and one son from his second marriage.
Daily Routine
Shaykh Zakariyya organized his time meticulously. He would rise an hour before dawn and occupy himself in tahajjud and recitation of Qur’an before performing the Fajr prayer in the masjid. After Fajr, he would read his morning supplications and litany until sunrise.
Thereafter he would go to meet with some people and drink tea (but never ate anything with it). He would then return to his quarters to read. During this time he would also research and compile his literary works, and, with few exceptions, no one was allowed to visit him at this time. When it was time for lunch he would come out and sit with his guests, who were from all walks of life; he would respect and treat them well, irrespective of who they were. After Zuhr prayer, he would take a siesta and then spent some time listening to his correspondence (which amounted to around forty or fifty letters daily from different places) and dictating replies. He also taught for two hour before ‘Asr. After ‘Asr, he would sit with a large group of people, offering them tea. After performing Maghrib, he would remain devoted in solitude to optional prayer and to supplication. He did not take an evening meal except to entertain an important guest.
Personality
Shaykh Abu ‘l-Hasan ‘Ali Nadwi says about his characteristics, “He was extremely vibrant,never lazy; light-hearted, smiling, cheerful, friendly; and he often jested with his close friends and acquaintances. We saw in him good character and forbearance with people, as well as a rare humility; and above all, his personal qualities were always governed by his deep faith and sense of contentment.”
Death
He had always hoped to meet Allah while in the city of the Messenger (SallAllahu alaihi Wasallam); Allah granted his wish. He died there on Monday Sha’ban 1, 1402 AH (May 24, 1982 CE) and was buried in Jannat al-Baqi’, in the company of the Companions and the noble family members of the Messenger (SallAllahu alaihi Wasallam). His funeral procession was followed by a large number of people and he was buried in the Baqi’ graveyard next to his teacher Shaykh Khaliq Ahmad Saharanpuri. May Allah forgive him, grant mercy, and elevate his status. Amin.
Scholars’ Praise of Him
Many scholars, both Arab and non-Arab, have praised him and recognized his knowledge and excellence. ‘Allama Muhammad Yusuf Binnori relates, Indeed there are some remnants of the scholars of past generations living today among the scholars of today’s generation. They have been guided to praiseworthy efforts in multiple religious sciences, such as jurisprudence; they are on par with the previous generations in their knowledge, excellence, fear of Allah, and piety; they stir up memories of the blessed golden age of scholarship. Among these scholars is a unique figure envied for his excellence in knowledge and action, the author of outstanding, beneficial works and of beautiful, superb commentaries: Shaykh Muhammad Zakariyya Kandhlawi Saharanpuri.
Shaykh Sa’id Ahmad, the head of Islamic studies at the University of Aligarh, UP, relates, It is evident to one who take a look at his works that he had a brilliancy, both in knowledge and with the pen, like that of Ibn al-Jawzi and Imam Ghazali. Of the scholars of his era I know of no one comparable to him in this regard, except Imam ‘Abd al-Hayy al-Farangi Mahalli (of Lucknow).
Shaykh Abu ‘l-Hasan ‘Ali Nadwi relates that Shaykh ‘Alawi al-Maliki said, When he reports the ruling and evidences of the Maliki school [in his writings], we Malikis are astonished at the accuracy and integrity of the report…. If the author had not mentioned in the introduction of [his] book that he was a Hanafi, I would not have known that he was
Hanafi, but would have definitely concluded that he was a Maliki, since in his Awjaz he cites by-laws and derivatives of the Maliki school from there books that even we have a hard time obtaining.
Students
Shaykh Zakariyya had numerous students who spread around the world and continue, to this day, to serve Islam, particularly establishing traditional Islamic schools in India, Pakistan, Bangladesh, England, Canada, America, South Africa, Zambia, Zimbabwe, and other countries. Some of his more prominent students in the field of hadith were Muhaddith Muhammad Yusuf Kandhlawi (d. 1384 AH), author of Amani ‘l-Ahbar Sharh Ma’ani ‘l-Athar, Shaykh ‘Abd al-Jabbar A’zami, author of Imdad al-Bari (Urdu commentary on Sahih al-Bukhari), and Mufti Mahmud Hasan Gangohi (d. 1417 AH). Many other scholars and students also acquired authorizations in hadith from him, including Dr. Mustafa’ al-Siba’i, Shaykh ‘Abd al-Fattah Abu Ghudda, Dr. Muhammad ‘Alawi al-Maliki and Shaykh Muhammad Taha al-Barakati.
Written Works
Shaykh Zakariyya wrote many works both in Arabic and Urdu. A number of them treat specialized subjects intended for scholars, and the rest have been written for the general public. His works demonstrate his deep knowledge and intelligence; his ability to understand the issue at hand, research it thoroughly, and present a complete, clear and comprehensive discussion; his moderation, humility, patience, and attention to detail. His respect and awe for the pious predecessors are evident in his works, even when he disagrees with their opinions on any particular aspect.
His first written work was a three volume commentary of the Alfiyya ibn Malik (on Arabic grammar), which he wrote as a student when he was only thirteen. His written works amount to over one hundred. He did not withhold any rights to his works and made it publicly known that he only published his works for the sake of Allah’s pleasure. Whoever wished to publish them was permitted to, on the condition that they were left unaltered and their accuracy maintained.
Hence, his books have gained overwhelming acceptance throughout the world, so much so that his work Fada’il al-Qur’an [Virtues of the Qur'an] has been translated into eleven languages, Fada’il Ramadan [Virtues of Ramadan] into twelve languages, and Fada’il al-Salat [Virtues of Prayer] into fifteen languages. He wrote four books on Qur’an commentary [tafsir] and proper recitation [tajwid], forty-four books on hadith and its related sciences, six books on jurisprudence [fiqh] and its related sciences, twenty-four historical and biographical books, four books on Islam creed [aqida], twelve books on abstinence [zuhd] and heartsoftening accounts [riqaq], three books in Arabic grammar and logic, and six books on modern-day groups and movements.
Some of His Hadith Works
One can find a complete list and description of his books in the various biographies written on him. Here is a brief description of a few of his more popular works on hadith:
Awjaz al-Masalik ila Muwatta’ Imam Malik: One of the most comprehensive commentaries on the Muwatta of Imam Malik in terms of the science of hadith, jurisprudence, and hadith explication. Shaykh Zakariyya provides the summaries of many other commentaries in a clear, intellectual, and scholarly way, dealing with the various opinions on each issue, mentioning the differences of opinions among the various scholars, and comparing their evidences. This commentary, written in Arabic, has won great acclaim from a number of Maliki scholars.
Lami’ al-Dirari ‘ala Jami’ al-Bukhari: Written in Arabic, a collection of the unique remarks and observations on Sahih al-Bukhari presented by Shaykh Rashid Ahmad Gangohi. These lifelong acquired wisdoms were recorded by his student Shaykh Yahya Kandhlawi (Shaykh Zakariyya’s father) during their lessons. Shaykh Zakariyya edited, arranged, and commented on his father’s compilation, clarifying the text and adding a comprehensive introduction at the beginning.
Al-Abwab wa ‘l-Tarajim li ‘l-Bukhari: An explanation of the chapter headings of Imam Bukhari’s Sahih al-Bukhari. Assigning chapter headings in a hadith collection is a science in itself, known among the scholars as al-abwab wa ‘l-tarajim [chapters and explanations]. In it, the compiler explains the reasons for the chapter heading and the connections between the chapter headings and the hadiths quoted therein. It is well known that the commentators of Sahih al-Bukhari have paid special attention to the titles therein, in tune with the Arabic saying: “The fiqh of Bukhari is in his chapter headings” [fiqh al-Bukhari fi tarajimihi]. Shaykh Zakariyya not only quotes and compiles what has been mentioned by other scholars like Shah Wali Allah al-Dehlawi and Ibn Hajar al-’Asqalani, but also correlates and clarifies these opinions and presents findings from his own research in many instances.
Juz’ Hajjat al-Wida’ wa ‘Umrat al-Nabi : A comprehensive Arabic commentary on the detailed accounts of the pilgrimage [hajj] of Allah’s Messenger. It includes the details of any juridical discussions on the various aspects of pilgrimage, giving the locations, modern-day names, and other details of the places the Messenger of Allah passed by or stayed at.
Khasa’il Nabawi Sharh Shama’il al-Tirmidhi: Composed in urdu, a commentary on Imam Tirmidhi’s renowned work al-Shama’il al-Muhammadiyya, a collection of hadiths detailing the characteristics of the Messenger. This commentary explains the various aspects related to the different characteristics and practices of Allah’s Messenger. It has been translated into English and is widely available.
Upon them ended the era of leadership in teaching hadiths, codification of the special fields [funun] of hadith, and commentary upon its texts [mutun]. Such was their mastery of this science that Muhammad Rashid Rida mentions in the introduction of his book Miftah Kunuz al-Sunnah, “Were it not for the superb attention to detail in the science of hadith displayed by our brothers, the scholars of India in the present era, this science would have withered away in the eastern cities. And, indeed, mastery of this science has been waning in Egypt and Syria since the tenth century AH.” There is no doubt that Shaykh Muhammad Zakariyya was among the most distinguished hadith scholars of India and a great contributor in the service of the Sunnah. He was given the honorary title of Shaykh al-Hadith, or “Great Scholar of Hadith,” by his teacher, Shaykh Khalil Ahmad Saharanpuri, who recognized his deep insight, clear-sightedness, and extensive knowledge of hadith and related sciences.
Lineage and Upbringing
He was born in the village of Kandhla (in Uttar Pradesh, India) on Ramadan 10, 1315 AH (February 12, 1898 CE). His full name was Muhammad Zakariyya ibn Muhammad Yahya ibn Muhammad Ismail, and his lineage continues all the way back to Abu Bakr, the great Companion of the Messenger (SallAllahu alaihi Wasallam).
Shaykh Abu al-Hasan Nadwi said about him, “Shaykh Muhammad Zakariyya was born into a household rooted in knowledge and passion for Islam. His immediate family and his predecessors were distinguished by firm resolve, perseverance, steadfastness, and adherence to religion…. His family included many notable scholars… and his grandmother memorized the entire Qur’an while nursing her son [Shaykh Zakariyya’s father].”
His father, Shaykh Muhammad Yahya, was among the great scholars of India, whose primary teacher in hadith was Shaykh Rashid Ahmad Gangohi. Under him he studied Sahih al-Bukhari, Jami al-Tirmidhi, and others of the six famous authentic books of hadith [sihah sitta]. Shaykh Yahya went on to teach at Madrasa Mazahir Ulum, in the district of Saharanpur, but did not accept any payment for his services. He instead made his living through his own book-publishing business.
As a young boy, Shaykh Zakariyya moved with his father to the village of Gangoh, in the district of Saharanpur. Since his father and Shaykh Gangohi had a close relationship, Shaykh Zakariyya quickly earned the affection of his father’s teacher.
Growing up in this virtuous environment, he began learning how to read with Hakim Abd al-Rahman of Muzaffarnagar. He memorized the Qur’an with his father and also studied books in Persian and the introductory Arabic books with his uncle Shaykh Muhammad Ilyas (founder of the Tabligh movement). He stayed with his father in the company of Shaykh Gangohi until age eight, when the shaykh passed away.
At the age of twelve, Shaykh Zakariyya traveled with his father to Mazahir Ulum, There, under his father, he advanced his study of Arabic, tackling many classical texts on Arabic morphology, grammar, literature and also logic. But by the time he was seventeen, hadith became the main focus of his life. He studied five of the six authentic books of hadith with his father, and then he studied Sahih al-Bukhari and Sunan al-Tirmidhi (for a second time) with honorable Shaykh Khalil Ahmad Saharanpuri. Out of his immense respect for hadith, Shaykh Zakariyya was extremely particular about always studying the hadith narrations with wudu’.
On Dhu ‘l-Qa’da 10, 1334 AH, when Shaykh Zakariyya was just nineteen, his dear father passed away. This event was extremely traumatic for Shaykh Zakariyya, as he lost not only a father but also a teacher and mentor. His deep sorrow remained with him for the rest of his life.
Teachers
Shaykh Zakariyya was blessed to live and learn in an era considered by many to be one of great achievements in Islamic knowledge by scholars in the Indian subcontinent. He studied with few but select teachers who reached the highest levels of learning, research, authorship, and piety. In addition to his father (Shaykh Muhammad Yahya) and uncle (Shaykh Muhammad Ilyas), he studied under the hadith scholar Khalil Ahmad Saharanpuri, author of the Badhl al-Majhud, a commentary of Sunan Abi Dawud. Shaykh Zakariyya acquired a hadith authorization from him and remained his student until Shaykh Khalil’s death in Madina Munawwara in 1346 AH.
Before his death, Shaykh Khalil Ahmad expressed his desire to write Badhl al-Majhud, and he sought Shaykh Zakariyya’s assistance as his right-hand man. This experience revealed Shaykh Zakariyya’s gift of penmanship and, furthermore, expanded his insight in the science of hadith. He worked hard on the project, attained the pleasure and trust of his shaykh, and was even mentioned by name in the commentary. This indeed opened the door to Shaykh Zakariyya’s authoring many literary works and treatises over the course of his life.
Teaching Career
In Muharram 1335 AH he was appointed as a teacher at Madrasa Mazahir Ulum, where he was assigned to teach books on Arabic grammar, morphology, and literature, as well as a number of primary texts of Islamic jurisprudence. In 1341 AH he was assigned to teach three sections of Sahih al-Bukhari upon the insistence of Shaykh Khalil Ahmad. He also taught Mishkat al-Masabih until 1344 AH. Shaykh Abu al-Hasan Nadwi said, “Although he was one of the youngest teachers at the school, he was selected to teach works generally not assigned to those of his age, nor to anyone in the early stages of his teaching career. Nevertheless, he showed that he was not only able, but an exceptional teacher.”
In 1345 AH he traveled to Madina Munawwara, the city of Allah’s Messenger, where he resided for one year. There he taught Sunan Abi Dawud at Madrasa al-Ulum al-Shar’iyya. While in Madina, he began working on Awjaz al-Masalik ila Muwatta Imam Malik, a commentary on Imam Malik’s Muwatta. He was twenty-nine at the time.
When he returned to India, he resumed teaching at Mazahir Ulum. He began teaching Sunan Abi Dawud, Sunan al-Nasai, the Muwatta of Imam Muhammad, and the second half of Sahih al-Bukhari. The school’s principle taught the first half of Sahih al-Bukhari, and after his death, Shaykh Zakariyya was given the honor of teaching the entire work.
In all, he taught the first half of Sahih al-Bukhari twenty-five times, the complete Sahih al-Bukhari sixteen times, and Sunan Abi Dawud thirty times. He did not just teach hadith as a matter of routine; the work of hadith had become his passion, and he put his heart and soul into it. Shaykh Zakariyya taught until 1388 AH, when he was forced to give up teaching after developing eye cataracts.
Travels to the Two Holy Cities
Allah blessed him with the opportunity to visit the two holy cities of Makka and Madina. He performed hajj several times, and his multiple trips had a profound personal effect on him, both spiritually and educationally. He made the blessed journey with Shaykh Khalil Ahmad in 1338 AH and with him again in 1344. It was during the second trip that Shaykh Khalil completed Badhl al-Majhud; he died shortly thereafter and was buried in the Baqi’ graveyard in Madina. May Allah have mercy on him and put light in his grave.
Sincere Love for Allah and the Prophet
Shaykh Muhammad Zakariyya inherited piety, honesty, and good character from his father (may Allah be pleased with him). He aspired to follow the Qur’an and Sunnah in all matters, big and small, with a passion not found in many scholars. He had extreme love for the Prophet and the blessed city of Madina. His students have related that whenever the death of the Messenger was mentioned during a lecture on Sunan Abi Dawud or Sahih al-Bukhari, his eyes would well up with tears, his voice would choke up, and he would be overcome with crying. So evocative were his tears that his students could do nothing but weep with raised voices.
He was often tested with regard to his sincerity. He was offered many teaching jobs at two or three times the salary that was customarily given at Mazahir ‘Ulum, but he always graciously declined the offers. For most of his teaching career, Shaykh Zakariyya never accepted any money for his services at Mazahir ‘Ulum; he did the work voluntarily, seeking Allah’s pleasure. Although he did accept a small salary at the beginning of his career, he later totaled up the amount and paid it back in its entirety.
Household
Shaykh Muhammad Zakariyya was married twice. He first married the daughter of Shaykh Ra’uf al-Hasan in Kandhla. She passed away on Dhu ‘l-Hijja 5 1355 AH. He then married the daughter of Shaykh Muhammad Ilyas Kandhlawi in 1356 AH. Allah blessed him with five daughters and three sons from his first wife, and two daughters and one son from his second marriage.
Daily Routine
Shaykh Zakariyya organized his time meticulously. He would rise an hour before dawn and occupy himself in tahajjud and recitation of Qur’an before performing the Fajr prayer in the masjid. After Fajr, he would read his morning supplications and litany until sunrise.
Thereafter he would go to meet with some people and drink tea (but never ate anything with it). He would then return to his quarters to read. During this time he would also research and compile his literary works, and, with few exceptions, no one was allowed to visit him at this time. When it was time for lunch he would come out and sit with his guests, who were from all walks of life; he would respect and treat them well, irrespective of who they were. After Zuhr prayer, he would take a siesta and then spent some time listening to his correspondence (which amounted to around forty or fifty letters daily from different places) and dictating replies. He also taught for two hour before ‘Asr. After ‘Asr, he would sit with a large group of people, offering them tea. After performing Maghrib, he would remain devoted in solitude to optional prayer and to supplication. He did not take an evening meal except to entertain an important guest.
Personality
Shaykh Abu ‘l-Hasan ‘Ali Nadwi says about his characteristics, “He was extremely vibrant,never lazy; light-hearted, smiling, cheerful, friendly; and he often jested with his close friends and acquaintances. We saw in him good character and forbearance with people, as well as a rare humility; and above all, his personal qualities were always governed by his deep faith and sense of contentment.”
Death
He had always hoped to meet Allah while in the city of the Messenger (SallAllahu alaihi Wasallam); Allah granted his wish. He died there on Monday Sha’ban 1, 1402 AH (May 24, 1982 CE) and was buried in Jannat al-Baqi’, in the company of the Companions and the noble family members of the Messenger (SallAllahu alaihi Wasallam). His funeral procession was followed by a large number of people and he was buried in the Baqi’ graveyard next to his teacher Shaykh Khaliq Ahmad Saharanpuri. May Allah forgive him, grant mercy, and elevate his status. Amin.
Scholars’ Praise of Him
Many scholars, both Arab and non-Arab, have praised him and recognized his knowledge and excellence. ‘Allama Muhammad Yusuf Binnori relates, Indeed there are some remnants of the scholars of past generations living today among the scholars of today’s generation. They have been guided to praiseworthy efforts in multiple religious sciences, such as jurisprudence; they are on par with the previous generations in their knowledge, excellence, fear of Allah, and piety; they stir up memories of the blessed golden age of scholarship. Among these scholars is a unique figure envied for his excellence in knowledge and action, the author of outstanding, beneficial works and of beautiful, superb commentaries: Shaykh Muhammad Zakariyya Kandhlawi Saharanpuri.
Shaykh Sa’id Ahmad, the head of Islamic studies at the University of Aligarh, UP, relates, It is evident to one who take a look at his works that he had a brilliancy, both in knowledge and with the pen, like that of Ibn al-Jawzi and Imam Ghazali. Of the scholars of his era I know of no one comparable to him in this regard, except Imam ‘Abd al-Hayy al-Farangi Mahalli (of Lucknow).
Shaykh Abu ‘l-Hasan ‘Ali Nadwi relates that Shaykh ‘Alawi al-Maliki said, When he reports the ruling and evidences of the Maliki school [in his writings], we Malikis are astonished at the accuracy and integrity of the report…. If the author had not mentioned in the introduction of [his] book that he was a Hanafi, I would not have known that he was
Hanafi, but would have definitely concluded that he was a Maliki, since in his Awjaz he cites by-laws and derivatives of the Maliki school from there books that even we have a hard time obtaining.
Students
Shaykh Zakariyya had numerous students who spread around the world and continue, to this day, to serve Islam, particularly establishing traditional Islamic schools in India, Pakistan, Bangladesh, England, Canada, America, South Africa, Zambia, Zimbabwe, and other countries. Some of his more prominent students in the field of hadith were Muhaddith Muhammad Yusuf Kandhlawi (d. 1384 AH), author of Amani ‘l-Ahbar Sharh Ma’ani ‘l-Athar, Shaykh ‘Abd al-Jabbar A’zami, author of Imdad al-Bari (Urdu commentary on Sahih al-Bukhari), and Mufti Mahmud Hasan Gangohi (d. 1417 AH). Many other scholars and students also acquired authorizations in hadith from him, including Dr. Mustafa’ al-Siba’i, Shaykh ‘Abd al-Fattah Abu Ghudda, Dr. Muhammad ‘Alawi al-Maliki and Shaykh Muhammad Taha al-Barakati.
Written Works
Shaykh Zakariyya wrote many works both in Arabic and Urdu. A number of them treat specialized subjects intended for scholars, and the rest have been written for the general public. His works demonstrate his deep knowledge and intelligence; his ability to understand the issue at hand, research it thoroughly, and present a complete, clear and comprehensive discussion; his moderation, humility, patience, and attention to detail. His respect and awe for the pious predecessors are evident in his works, even when he disagrees with their opinions on any particular aspect.
His first written work was a three volume commentary of the Alfiyya ibn Malik (on Arabic grammar), which he wrote as a student when he was only thirteen. His written works amount to over one hundred. He did not withhold any rights to his works and made it publicly known that he only published his works for the sake of Allah’s pleasure. Whoever wished to publish them was permitted to, on the condition that they were left unaltered and their accuracy maintained.
Hence, his books have gained overwhelming acceptance throughout the world, so much so that his work Fada’il al-Qur’an [Virtues of the Qur'an] has been translated into eleven languages, Fada’il Ramadan [Virtues of Ramadan] into twelve languages, and Fada’il al-Salat [Virtues of Prayer] into fifteen languages. He wrote four books on Qur’an commentary [tafsir] and proper recitation [tajwid], forty-four books on hadith and its related sciences, six books on jurisprudence [fiqh] and its related sciences, twenty-four historical and biographical books, four books on Islam creed [aqida], twelve books on abstinence [zuhd] and heartsoftening accounts [riqaq], three books in Arabic grammar and logic, and six books on modern-day groups and movements.
Some of His Hadith Works
One can find a complete list and description of his books in the various biographies written on him. Here is a brief description of a few of his more popular works on hadith:
Awjaz al-Masalik ila Muwatta’ Imam Malik: One of the most comprehensive commentaries on the Muwatta of Imam Malik in terms of the science of hadith, jurisprudence, and hadith explication. Shaykh Zakariyya provides the summaries of many other commentaries in a clear, intellectual, and scholarly way, dealing with the various opinions on each issue, mentioning the differences of opinions among the various scholars, and comparing their evidences. This commentary, written in Arabic, has won great acclaim from a number of Maliki scholars.
Lami’ al-Dirari ‘ala Jami’ al-Bukhari: Written in Arabic, a collection of the unique remarks and observations on Sahih al-Bukhari presented by Shaykh Rashid Ahmad Gangohi. These lifelong acquired wisdoms were recorded by his student Shaykh Yahya Kandhlawi (Shaykh Zakariyya’s father) during their lessons. Shaykh Zakariyya edited, arranged, and commented on his father’s compilation, clarifying the text and adding a comprehensive introduction at the beginning.
Al-Abwab wa ‘l-Tarajim li ‘l-Bukhari: An explanation of the chapter headings of Imam Bukhari’s Sahih al-Bukhari. Assigning chapter headings in a hadith collection is a science in itself, known among the scholars as al-abwab wa ‘l-tarajim [chapters and explanations]. In it, the compiler explains the reasons for the chapter heading and the connections between the chapter headings and the hadiths quoted therein. It is well known that the commentators of Sahih al-Bukhari have paid special attention to the titles therein, in tune with the Arabic saying: “The fiqh of Bukhari is in his chapter headings” [fiqh al-Bukhari fi tarajimihi]. Shaykh Zakariyya not only quotes and compiles what has been mentioned by other scholars like Shah Wali Allah al-Dehlawi and Ibn Hajar al-’Asqalani, but also correlates and clarifies these opinions and presents findings from his own research in many instances.
Juz’ Hajjat al-Wida’ wa ‘Umrat al-Nabi : A comprehensive Arabic commentary on the detailed accounts of the pilgrimage [hajj] of Allah’s Messenger. It includes the details of any juridical discussions on the various aspects of pilgrimage, giving the locations, modern-day names, and other details of the places the Messenger of Allah passed by or stayed at.
Khasa’il Nabawi Sharh Shama’il al-Tirmidhi: Composed in urdu, a commentary on Imam Tirmidhi’s renowned work al-Shama’il al-Muhammadiyya, a collection of hadiths detailing the characteristics of the Messenger. This commentary explains the various aspects related to the different characteristics and practices of Allah’s Messenger. It has been translated into English and is widely available.
Penyelewengan Juanda Jaya Al-Wahhabi Liwati

* PENTING. SILA RUJUK BUKTI BERDASARKAN NOMBOR YANG TELAH DIBERI.
- Rujukan bernombor (1): Kenyataan Juanda Jaya dalam pembentangan kertas-kerjanya bertajuk Feqh Munakahaat Dalam Masyarakat Di Malaysia.
- Rujukan bernombor (2) : Kenyataan Juanda Jaya dalam pembentangan kertas kerjanya bertajuk Ketokohan Muhammad Bin Abdul Wahhab.
- Rujukan bernombor (3): Kertas kerja Juanda Jaya berjudul Al-Syafi'e Antara Keaslian Dengan Salah Faham.
- Rujukan bernombor (4): Rakaman Perbualan dengan Juanda Jaya tahun 2008.
Kenyataan dibawah adalah dipetik dari lidah dan tulisan Juanda Bin Jaya:
1- Juanda Jaya mendakwa mazhab Syafi'e tidak adil (1).
2- Juanda Jaya mengkritik & mengkondem kitab Al-Umm karangan Imam Syafi'e (1).
3- Juanda Jaya mendakwa si isteri yang telahpun ditalak oleh suaminya masih lagi dikira sebagai isteri kepada lelaki itu secara sah walaupun belum ruju'(1).
4- Juanda Jaya menuduh dalam "Marhaban" ada penyamaan nabi Muhammad dengan Allah (1).Sedang ia sebaliknya.
5- Menghukum Tokoh ulama sebagai sesat (4).
6- Juanda Jaya mengakui bahawa Muhammad bin Abdul Wahhab adalah pengasas & guru besar Wahhabi (2). Wahabi pula menafikannya.
7- Juanda Jaya membohongi fakta kononnya Jazirah 'Arabiah tiada ulama Islam tiba-tiba muncul Muhammad Bin Abdul Wahhab menyelamatkan bumi(2).
8- Juanda Jaya mendakwa Muhammad bin Abdul Wahhab belajar sendiri dengan Ibnu Taimiah dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (2). Sedangkan hakikatnya kedua-keduanya telah mati lebih 500 Tahun sebelum kelahiran Muhammad bin Abdul Wahhab.
9- Juanda Jaya mendakwa orang awam yang bertaqlid dengan mazhab adalah sesat (3).
10- Mendakwa Qubah di atas kubur itu adalah bid'ah sesat dan khurafat (2). Sedangkan di atas Maqam @ kubur Nabi Muhammad terdapat Qubah.
11- Mengakui Wahhabi menentang Daulah Khilafah Uthmaniyyah (2).
12- Melarang orang awam bertaqlid dengan mana-mana mazhab(3).
13- Melarang orang awam mengikut pandangan ulama Islam (3).
14- Mengharamkan umat Islam mengikut pandangan ulama Mujtahid waktu yang sama Juanda mewajibkan kepada orang awam permindahan ke mana-mana mazhab walaupun tiada dalil (3).
15- Mendakwa kononnya seluruh umat & ulama negara arab beraqidah sesat ketika zaman Muhammad bin Abdul Wahhab (2).
* Juanda Jaya al-Wahhabi ini turut mendakwa bahawa Muhamad Bin Abdul Wahhab adalah kekasih pilihan Allah (2) dan Mendakwa kononnya Muhammad Bin Abdul Wahhab telah dilantik oleh Allah sendiri untuk melaksanakan misi Allah (2). Demikian adalah ghuluw dirinya (Juanda) mendewa-dewakan orang yang dia sendiri tidak kenal.
www.abu-syafiq.blogspot.com
Pernyataan Ulama Ahlussunnah Tentang Kekufuran Orang Yang Menetapkan Tempat Bagi Allah
.oleh Abou Fateh pada pada 14hb November 2009 pukul 10.30 ptg.
Berikut ini adalah adalah pernyataan para ulama Ahlussunnah dalam menetapkan kekufuran orang yang berkeyakinan bahwa Allah berada pada tempat dan arah, seperti mereka yang menetapkan arah atas bagi-Nya, atau bahwa Dia berada di langit, atau berada di atas arsy, atau mereka yang mengatakan bahwa Allah berada di semua tempat. Berikut nama ulama Ahlussunnah dengan pernyataan mereka di dalam karyanya masing-masing yang kita sebutkan di sini hanya sebagian kecil saja.
• Al-Imâm al-Mujtahid Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit al-Kufi (w 150 H), Imam agung perintis madzhab Hanafi, dalam salah satu karyanya berjudul al-Fiqh al-Absath menuliskan bahwa orang yang berkeyakinan Allah berada di langit telah menjadi kafir. Al-Imâm Abu Hanifah menuliskan sebagai berikut:
“Barangsiapa berkata: “Saya tidak tahu Tuhanku (Allah) apakah ia berada di langit atau berada di bumi?!”, maka orang ini telah menjadi kafir. Demikian pula telah menjadi kafir orang yang berkata: “Allah berada di atas arsy, dan saya tidak tahu apakah arsy berada di langit atau berada di bumi?!” (al-Fiqh al-Absath, h. 12 (Lihat dalam kumpulan risalah al-Imâm Abu Hanifah yang di-tahqiq oleh al-Muhaddits Muhammad Zahid al-Kautsari).
• Pernyataan al-Imâm Abu Hanifah di atas lalu dijelaskan oleh al-Imâm asy-Syaikh al-Izz ibn Abd as-Salam (w 660 H) dalam karyanya berjudul Hall ar-Rumuz sekaligus disepakatinya bahwa orang yang berkata demikian itu telah menjadi kafir, adalah karena orang tersebut telah menetapkan tempat bagi Allah. Al-Imâm al-Izz ibn Abd as-Salam menuliskan:
“Hal itu menjadikan dia kafir karena perkataan demikian memberikan pemahaman bahwa Allah memiliki tempat, dan barangsiapa berkeyakinan bahwa Allah memiliki tempat maka dia adalah seorang Musyabbih (Seorang kafir yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya)” (Dikutip oleh asy-Syaikh Mulla Ali al-Qari dalam kitab Syrah al-Fiqh al-Akbar, h. 198).
• Pemahaman pernyataan al-Imâm Abu Hanifah di atas sebagaimana telah dijelaskan oleh al-Imâm al-Izz ibn Abd as-Salam telah dikutip pula oleh asy-Syaikh Mulla Ali al-Qari’ (w 1014 H) dalam karyanya Syarh al-Fiqh al-Akbar sekaligus disetujuinya. Tentang hal ini beliau menuliskan sebagai berikut:
“Tidak diragukan lagi kebenaran apa yang telah dinyatakan oleh al-Izz Ibn Abd as-Salam --dalam memahami maksud perkataan al-Imâm Abu Hanifah--, beliau adalah ulama terkemuka dan sangat terpercaya. Dengan demikian wajib berpegang teguh dengan apa yang telah beliau nyatakan ini” (Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 198).
• Al-Imâm al-Hâfizh al-Faqîh Abu Ja’far ath-Thahawi (w 321 H) dalam risalah akidahnya; al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah, yang sangat terkenal sebagai risalah akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah, menuliskan sebagai berikut: “Barangsiapa mensifati Allah dengan satu sifat saja dari sifat-sifat manusia maka orang ini telah menjadi kafir” (Lihat matan al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah).
• Salah seorang sufi terkemuka, al-‘Arif Billah al-Imâm Abu al-Qasim al-Qusyairi (w 465 H) dalam karya fenomenalnya berjudul ar-Risalah al-Qusyairiyyah menuliskan sebagai berikut:
“Aku telah mendengar al-Imâm Abu Bakr ibn Furak berkata: Aku telah mendengar Abu Utsman al-Maghribi berkata: Dahulu aku pernah berkeyakinan sedikit tentang adanya arah bagi Allah, namun ketika aku masuk ke kota Baghdad keyakinan itu telah hilang dari hatiku. Lalu aku menulis surat kepada teman-temanku yang berada di Mekah, aku katakan kepada mereka bahwa aku sekarang telah memperbaharui Islamku” (ar-Risalah al-Qusyairiyyah, h. 5).
• Teolog terkemuka di kalangan Ahlussunnah al-Imâm Abu al-Mu’ain Maimun ibn Muhammad an-Nasafi al-Hanafi (w 508 H) dalam kitab Tabshirah al-Adillah menuliskan sebagai berikut:
“Allah telah menafikan keserupaan antara Dia sendiri dengan segala apapun dari makhluk-Nya. Dengan demikian pendapat yang menetapkan adanya tempat bagi Allah adalah pendapat yang telah menentang ayat muhkam; yaitu firman-Nya: “Laysa Kamitslihi Syai’” (QS. asy-Syura: 11). Ayat ini sangat jelas pemaknaannya dan tidak dimungkinkan memiliki pemahaman lain (takwil). Dan barangsiapa menentang ayat-ayat al-Qur’an maka ia telah menjadi kafir. Semoga Allah memelihara kita dari kekufuran” (Tabshirah al-Adillah Fi Ushuliddin, j. 1, h. 169).
• Asy-Syaikh al-‘Allâmah Zainuddin Ibn Nujaim al-Hanafi (w 970 H) dalam karyanya berjudul al-Bahr ar-Ra-iq Syarh Kanz ad-Daqa-iq berkata:
“Seseorang menjadi kafir karena berkeyakinan adanya tempat bagi Allah. Adapun jika ia berkata “Allah Fi as-Sama’” untuk tujuan meriwayatkan apa yang secara zhahir terdapat dalam beberapa hadits maka ia tidak kafir. Namun bila ia berkata demikian untuk tujuan menetapkan tempat bagi Allah maka ia telah menjadi kafir” (al-Bahr ar-Ra-iq Syarh Kanz ad-Daqa-iq, j. 5, h. 129).
• Asy-Syaikh al-‘Allâmah Syihabuddin Ahmad ibn Muhammad al-Mishri asy-Syafi’i al-Asy’ari (w 974 H) yang lebih dikenal dengan nama Ibn Hajar al-Haitami dalam karyanya berjudul al-Minhaj al-Qawim ‘Ala al-Muqaddimah al-Hadlramiyyah menuliskan sebagai berikut:
“Ketahuilah bahwa al-Qarafi dan lainnya telah meriwayatkan dari al-Imâm asy-Syafi’i, al-Imâm Malik, al-Imâm Ahmad dan al-Imâm Abu Hanifah bahwa mereka semua sepakat mengatakan bahwa orang yang menetapkan arah bagi Allah dan mengatakan bahwa Allah adalah benda maka orang tersebut telah menjadi kafir. Mereka semua (para Imam madzhab) tersebut telah benar-benar menyatakan demikian” (al-Minhaj al-Qawim ‘Ala al-Muqaddimah al-Hadlramiyyah, h. 224).
• Dalam kitab Syarh al-Fiqh al-Akbar yang telah disebutkan di atas, asy-Syaikh Ali Mulla al-Qari menuliskan sebagai berikut: “Maka barangsiapa yang berbuat zhalim dengan melakukan kedustaan kepada Allah dan mengaku dengan pengakuan-pengakuan yang berisikan penetapan tempat bagi-Nya, atau menetapkan bentuk, atau menetapkan arah; seperti arah depan atau lainnnaya, atau menetapkan jarak, atau semisal ini semua, maka orang tersebut secara pasti telah menjadi kafir” (Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 215).
Masih dalam kitab yang sama, Syaikh Ali Mulla al-Qari juga menuliskan sebagai berikut:
“Barangsiapa berkeyakinan bahwa Allah tidak mengetahui segala sesuatu sebelum kejadiannya maka orang ini benar-benar telah menjadi kafir, sekalipun orang yang berkata semacam ini dianggap ahli bid’ah saja. Demikian pula orang yang berkata bahwa Allah adalah benda yang memiliki tempat, atau bahwa Allah terikat oleh waktu, atau semacam itu, maka orang ini telah menjadi kafir, karena tidak benar keyakinan iman yang ada pada dirinya” (Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 271-272).
Dalam kitab karya beliau lainnya berjudul Mirqat al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih, Syaikh Ali Mulla al-Qari’ menuliskan sebagai berikut:
“Bahkan mereka semua --ulama Salaf-- dan ulama Khalaf telah menyatakan bahwa orang yang menetapkan adanya arah bagi Allah maka orang ini telah menjadi kafir, sebagaimana hal ini telah dinyatakan oleh al-Iraqi. Beliau (al-Iraqi) berkata: Klaim kafir terhadap orang yang telah menetapkan arah bagi Allah tersebut adalah pernyataan al-Imâm Abu Hanifah, al-Imâm Malik, al-Imâm asy-Syafi’i, al-Imâm al-Asy’ari dan al-Imâm al-Baqillani” (Mirqat al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih, j. 3, h. 300).
• Asy-Syaikh al-‘Allâmah Kamaluddin al-Bayyadli al-Hanafi (w 1098 H) dalam karyanya berjudul Isyarat al-Maram Min ‘Ibarat al-Imâm, sebuah kitab akidah dalam menjelaskan perkataan-perkataan al-Imâm Abu Hanifah, menuliskan sebagai berikut:
“Beliau (al-Imâm Abu Hanifah) berkata: “Barangsiapa berkata: Saya tidak tahu apakah Allah berada di langit atau berada di bumi maka orang ini telah menjadi kafir”. Hal ini karena orang yang berkata demikian telah menetapkan tempat dan arah bagi Allah. Dan setiap sesuatu yang memiliki tempat dan arah maka secara pasti ia adalah sesuatu yang baharu --yang membutuhkan kepada yang menjadikannya pada tempat dan arah tersebut--. Pernyataan semacam itu jelas merupakan cacian bagi Allah. Beliau (al-Imâm Abu Hanifah) berkata: “Demikian pula menjadi kafir orang yang berkata: “Allah berada di atas arsy, namun saya tidak tahu arsy, apakah berada di langit atau berada di bumi”. Hal ini karena orang tersebut telah menetapkan adanya tempat bagi Allah, menetapkan arah, juga menetapkan sesuatu yang nyata-nyata sebagai kekurangan bagi Allah, terlebih orang yang mengatakan bahwa Allah berada di arah atas, atau menfikan keagungan-Nya, atau menafikan Dzat Allah yang suci dari arah dan tempat, atau mengatakan bahwa Allah menyerupai makhluk-Nya. Dalam hal ini terdapat beberapa poin penting:
Pertama: Orang yang berkeyakinan bahwa Allah adalah bentuk yang memiliki arah maka orang ini sama saja dengan mengingkari segala sesuatu yang ada kecuali segala sesuatu tersebut dapat diisyarat -dengan arah- secara indrawi. Dengan demikian orang ini sama saja dengan mengingkari Dzat Allah yang maha suci dari menyerupai makhluk-Nya. Oleh karena itu orang semacam ini secara pasti adalah seorang yang telah kafir. Inilah yang diisyaratkan oleh al-Imâm Abu Hanifah dalam perkataannya di atas.
Kedua: Pengkafiran terhadap orang yang menetapkan adanya keserupaan dan tempat bagi Allah. Inilah yang diisyaratkan oleh al-Imâm Abu Hanifah dalam perkataannya di atas, dan ini berlaku umum. -Artimya yang menetapkan keserupaan dan tempat apapun bagi Allah maka ia telah menjadi kafir-. Dan ini pula yang telah dipilih oleh al-Imâm al-Asy’ari, sebagaimana dalam kitab an-Nawzdir ia (al-Imâm al-Asy’ari) berkata: “Barangsiapa berkeyakinan bahwa Allah benda maka orang ini tidak mengenal Tuhannya dan ia telah kafir kepada-Nya”. Sebagaimana hal ini juga dijelaskan dalam kitab Syarh al-Irsyad karya Abu al-Qasim al-Anshari” (Isyarat al-Maram Min ‘Ibarat al-Imâm, h. 200).
• Asy-Syaikh al-‘Allâmah Abd al-Ghani an-Nabulsi al-Hanafi (w 1143 H) dalam karyanya berjudul Fath ar-Rabbani Wa al-Faydl ar-Rahmani menuliskan sebagai berikut:
“Kufur dalam tinjauan syari’at terbagi kepada tiga bagian. Segala macam bentuk kekufuran kembali kepada tiga macam kufur ini, yaitu at-Tasybîh (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), at-Ta’thil (menafikan Allah atau sifat-sifat-Nya), dan at-Takdzib (mendustakan). Adapun at-Tasybîh adalah keyakinan bahwa Allah menyerupai makhluk-Nya, seperti mereka yang berkeyakinan bahwa Allah adalah benda yang duduk di atas arsy, atau yang berkeyakinan bahwa Allah memiliki dua tangan dalam pengertian anggota badan, atau bahwa Allah berbentuk seperti si fulan atau memiliki sifat seperti sifat-sifat si fulan, atau bahwa Allah adalah sinar yang dapat dibayangkan dalam akal, atau bahwa Allah berada di langit, atau barada pada semua arah yang enam atau pada suatu tempat atau arah tertentu dari arah-arah tersebut, atau bahwa Allah berada pada semua tempat, atau bahwa Dia memenuhi langit dan bumi, atau bahwa Allah berada di dalam suatu benda atau dalam seluruh benda, atau berkeyakinan bahwa Allah menyatau dengan suatu benda atau semua benda, atau berkeyakinan bahwa ada sesuatu yang terpisah dari Allah, semua keyakinan semacam ini adalah keyakinan kufur. Penyebab utamanya adalah karena kebodohan terhadap kewajiban yang telah dibebankan oleh syari’at atasnya” (al-Fath ar-Rabbani Wa al-Faidl ar-Rahmani, h. 124).
• Asy-Syaikh al-‘Allâmah Muhammad ibn Illaisy al-Maliki (w 1299 H) dalam menjelaskan perkara-perkara yang dapat menjatuhkan seseorang di dalam kekufuran menuliskan sebagai berikut:
“Contohnya seperti orang yang berkeyakinan bahwa Allah adalah benda atau berkayakinan bahwa Allah berada pada arah. Karena pernyataan semacam ini sama saja dengan menetapkan kebaharuan bagi Allah, dan menjadikan-Nya membutuhkan kepada yang menjadikan-Nya dalam kebaharuan tersebut” (Minah al-Jalil Syarh Mukhtashar Khalil, j. 9, h. 206).
• Al-‘Allâmah al-Muhaddits al-Faqîh asy-Syaikh Abu al-Mahasin Muhammad al-Qawuqji ath-Tharabulsi al-Hanafi (w 1305 H) dalam risalah akidah berjudul al-I’timad Fi al-I’tiqad menuliskan sebagai berikut: “Barangsiapa berkata:
“Saya tidak tahu apakah Allah berada di langit atau berada di bumi”; maka orang ini telah menjadi kafir. -Ini karena ia telah menetapkan tempat bagi Allah pada salah satu dari keduanya-” (al-I’timad Fi al-I’tiqad, h. 5).
• Dalam kitab al-Fatawa al-Hindiyyah, sebuah kitab yang memuat berbagai fatwa dari para ulama Ahlussunnah terkemuka di daratan India, tertulis sebagai berikut:
“Seseorang menjadi kafir karena menetapkan tempat bagi Allah. Jika ia berkata Allah Fi as-Sama’ untuk tujuan meriwayatkan lafazh zhahir dari beberapa berita (hadits) yang datang maka ia tidak menjadi kafir. Namun bila ia berkata demikian untuk tujuan menetapkan bahwa Allah berada di langit maka orang ini menjadi kafir” (al-Fatawa al-Hindiyyah, j. 2, h. 259).
• Asy-Syaikh Mahmud ibn Muhammad ibn Ahmad Khaththab as-Subki al-Mishri (w 1352 H) dalam kitab karyanya berjudul Ithaf al-Ka-inat Bi Bayan Madzhab as-Salaf Wa al-Khalaf Fi al-Mutasyâbihât, menuliskan sebagai berikut:
“Telah berkata kepadaku sebagian orang yang menginginkan penjelasan tentang dasar-dasar akidah agama dan ingin berpijak di atas para ulama Salaf dan ulama Khalaf dalam memahami teks-teks Mutasyâbihât, mereka berkata: Bagaimana pendapat para ulama terkemuka tentang hukum orang yang berkeyakinan bahwa Allah berada pada arah, atau bahwa Dia duduk satu tempat tertentu di atas arsy, lalu ia berkata: Ini adalah akidah salaf, kita harus berpegang teguh dengan keyakinan ini. Ia juga berkata: Barangsiapa tidak berkeyakinan Allah di atas arsy maka ia telah menjadi kafir. Ia mengambil dalil untuk itu dengan firman Allah: “ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa” (QS. Thaha: 5) dan firman-Nya: “A-amintum Man Fi as-Sama’ (QS. al-Mulk: 16). Orang yang berkeyakinan semacam ini benar atau batil? Dan jika keyakinannya tersebut batil, apakah seluruh amalannya juga batil, seperti shalat, puasa, dan lain sebagainya dari segala amalan-amalan keagamaan? Apakah pula menjadi tertolak pasangannya (suami atau istrinya)? Apakah jika ia mati dalam keyakinannya ini dan tidak bertaubat dari padanya, ia tidak dimandikan, tidak dishalatkan, dan tidak dimakamkan di pemakaman kaum muslimin? Kemudian seorang yang membenarkan keyakinan orang semacam itu, apakah ia juga telah menjadi kafir?
Jawaban yang aku tuliskan adalah sebagai berikut: Bismillah ar-Rahman ar-Rahim. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya. Keyakinan semacam ini adalah keyakinan batil, dan hukum orang yang berkeyakinan demikian adalah kafir, sebagaimana hal ini telah menjadi Ijma’ (konsensus) ulama terkemuka. Dalil akal di atas itu adalah bahwa Allah maha Qadim; tidak memiliki permulaan, ada sebelum segala makhluk, dan bahwa Allah tidak menyerupai segala makhluk yang baharu tersebut (Mukhalafah Li al-Hawadits). Dan dalil tekstual di atas itu adalah firman Allah: “Laisa Kamitaslihi Syai’” (QS. asy-Syura: 11). Dengan demikian orang yang berkayakinan bahwa Allah berada pada suatu tempat, atau menempel dengannya, atau menempel dengan sesuatu dari makhluk-Nya seperti arsy, al-kursy, langit, bumi dan lainnya maka orang semacam ini secara pasti telah menjadi kafir. Dan seluruh amalannya menjadi sia-sia, baik dari shalat, puasa, haji dan lainnya. Demikian pula pasangannya (suami atau istrinya) menjadi tertolak. Ia wajib segera bertaubat dengan masuk Islam kembali -dan melepaskan keyakinannnya tersebut-. Jika ia mati dalam keyakinannya ini maka ia tidak boleh dimandikan, tidak dishalatkan, dan tidak dimakamkan dipemakaman kaum muslimin. Termasuk menjadi kafir dalam hal ini adalah orang yang membenarkan keyakinan tersebut. -Semoga Allah memelihara kita dari pada itu semua-. Adapun pernyataannya bahwa setiap orang wajib berkeyakinan semacam ini, dan bahwa siapapun yang tidak berkeyakinan demikian adalah sebagai seorang kafir, maka itu adalah kedustaan belaka, dan sesungguhnya justru penyataannya yang merupakan kekufuran” (Ithaf al-Ka’inat, h. 3-4).
• Al-Muhaddits al-‘Allâmah asy-Syaikh Muhammad Zahid al-Kautsari (w 1371 H), Wakil perkumpulan para ulama Islam pada masa Khilafah Utsmaniyyah Turki menuliskan: “Perkataan yang menetapkan bahwa Allah berada pada tempat dan arah adalah perkataan kufur. Ini sebagaimana dinyatakan oleh para Imam madzhab yang empat, seperti yang telah disebutkan oleh al-Iraqi (dari para Imam madzhab tersebut) dalam kitab Syarh al-Misykat yang telah ditulis oleh asy-Syaikh Ali Mulla al-Qari” (Maqalat al-Kautsari, h. 321).
.
Berikut ini adalah adalah pernyataan para ulama Ahlussunnah dalam menetapkan kekufuran orang yang berkeyakinan bahwa Allah berada pada tempat dan arah, seperti mereka yang menetapkan arah atas bagi-Nya, atau bahwa Dia berada di langit, atau berada di atas arsy, atau mereka yang mengatakan bahwa Allah berada di semua tempat. Berikut nama ulama Ahlussunnah dengan pernyataan mereka di dalam karyanya masing-masing yang kita sebutkan di sini hanya sebagian kecil saja.
• Al-Imâm al-Mujtahid Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit al-Kufi (w 150 H), Imam agung perintis madzhab Hanafi, dalam salah satu karyanya berjudul al-Fiqh al-Absath menuliskan bahwa orang yang berkeyakinan Allah berada di langit telah menjadi kafir. Al-Imâm Abu Hanifah menuliskan sebagai berikut:
“Barangsiapa berkata: “Saya tidak tahu Tuhanku (Allah) apakah ia berada di langit atau berada di bumi?!”, maka orang ini telah menjadi kafir. Demikian pula telah menjadi kafir orang yang berkata: “Allah berada di atas arsy, dan saya tidak tahu apakah arsy berada di langit atau berada di bumi?!” (al-Fiqh al-Absath, h. 12 (Lihat dalam kumpulan risalah al-Imâm Abu Hanifah yang di-tahqiq oleh al-Muhaddits Muhammad Zahid al-Kautsari).
• Pernyataan al-Imâm Abu Hanifah di atas lalu dijelaskan oleh al-Imâm asy-Syaikh al-Izz ibn Abd as-Salam (w 660 H) dalam karyanya berjudul Hall ar-Rumuz sekaligus disepakatinya bahwa orang yang berkata demikian itu telah menjadi kafir, adalah karena orang tersebut telah menetapkan tempat bagi Allah. Al-Imâm al-Izz ibn Abd as-Salam menuliskan:
“Hal itu menjadikan dia kafir karena perkataan demikian memberikan pemahaman bahwa Allah memiliki tempat, dan barangsiapa berkeyakinan bahwa Allah memiliki tempat maka dia adalah seorang Musyabbih (Seorang kafir yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya)” (Dikutip oleh asy-Syaikh Mulla Ali al-Qari dalam kitab Syrah al-Fiqh al-Akbar, h. 198).
• Pemahaman pernyataan al-Imâm Abu Hanifah di atas sebagaimana telah dijelaskan oleh al-Imâm al-Izz ibn Abd as-Salam telah dikutip pula oleh asy-Syaikh Mulla Ali al-Qari’ (w 1014 H) dalam karyanya Syarh al-Fiqh al-Akbar sekaligus disetujuinya. Tentang hal ini beliau menuliskan sebagai berikut:
“Tidak diragukan lagi kebenaran apa yang telah dinyatakan oleh al-Izz Ibn Abd as-Salam --dalam memahami maksud perkataan al-Imâm Abu Hanifah--, beliau adalah ulama terkemuka dan sangat terpercaya. Dengan demikian wajib berpegang teguh dengan apa yang telah beliau nyatakan ini” (Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 198).
• Al-Imâm al-Hâfizh al-Faqîh Abu Ja’far ath-Thahawi (w 321 H) dalam risalah akidahnya; al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah, yang sangat terkenal sebagai risalah akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah, menuliskan sebagai berikut: “Barangsiapa mensifati Allah dengan satu sifat saja dari sifat-sifat manusia maka orang ini telah menjadi kafir” (Lihat matan al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah).
• Salah seorang sufi terkemuka, al-‘Arif Billah al-Imâm Abu al-Qasim al-Qusyairi (w 465 H) dalam karya fenomenalnya berjudul ar-Risalah al-Qusyairiyyah menuliskan sebagai berikut:
“Aku telah mendengar al-Imâm Abu Bakr ibn Furak berkata: Aku telah mendengar Abu Utsman al-Maghribi berkata: Dahulu aku pernah berkeyakinan sedikit tentang adanya arah bagi Allah, namun ketika aku masuk ke kota Baghdad keyakinan itu telah hilang dari hatiku. Lalu aku menulis surat kepada teman-temanku yang berada di Mekah, aku katakan kepada mereka bahwa aku sekarang telah memperbaharui Islamku” (ar-Risalah al-Qusyairiyyah, h. 5).
• Teolog terkemuka di kalangan Ahlussunnah al-Imâm Abu al-Mu’ain Maimun ibn Muhammad an-Nasafi al-Hanafi (w 508 H) dalam kitab Tabshirah al-Adillah menuliskan sebagai berikut:
“Allah telah menafikan keserupaan antara Dia sendiri dengan segala apapun dari makhluk-Nya. Dengan demikian pendapat yang menetapkan adanya tempat bagi Allah adalah pendapat yang telah menentang ayat muhkam; yaitu firman-Nya: “Laysa Kamitslihi Syai’” (QS. asy-Syura: 11). Ayat ini sangat jelas pemaknaannya dan tidak dimungkinkan memiliki pemahaman lain (takwil). Dan barangsiapa menentang ayat-ayat al-Qur’an maka ia telah menjadi kafir. Semoga Allah memelihara kita dari kekufuran” (Tabshirah al-Adillah Fi Ushuliddin, j. 1, h. 169).
• Asy-Syaikh al-‘Allâmah Zainuddin Ibn Nujaim al-Hanafi (w 970 H) dalam karyanya berjudul al-Bahr ar-Ra-iq Syarh Kanz ad-Daqa-iq berkata:
“Seseorang menjadi kafir karena berkeyakinan adanya tempat bagi Allah. Adapun jika ia berkata “Allah Fi as-Sama’” untuk tujuan meriwayatkan apa yang secara zhahir terdapat dalam beberapa hadits maka ia tidak kafir. Namun bila ia berkata demikian untuk tujuan menetapkan tempat bagi Allah maka ia telah menjadi kafir” (al-Bahr ar-Ra-iq Syarh Kanz ad-Daqa-iq, j. 5, h. 129).
• Asy-Syaikh al-‘Allâmah Syihabuddin Ahmad ibn Muhammad al-Mishri asy-Syafi’i al-Asy’ari (w 974 H) yang lebih dikenal dengan nama Ibn Hajar al-Haitami dalam karyanya berjudul al-Minhaj al-Qawim ‘Ala al-Muqaddimah al-Hadlramiyyah menuliskan sebagai berikut:
“Ketahuilah bahwa al-Qarafi dan lainnya telah meriwayatkan dari al-Imâm asy-Syafi’i, al-Imâm Malik, al-Imâm Ahmad dan al-Imâm Abu Hanifah bahwa mereka semua sepakat mengatakan bahwa orang yang menetapkan arah bagi Allah dan mengatakan bahwa Allah adalah benda maka orang tersebut telah menjadi kafir. Mereka semua (para Imam madzhab) tersebut telah benar-benar menyatakan demikian” (al-Minhaj al-Qawim ‘Ala al-Muqaddimah al-Hadlramiyyah, h. 224).
• Dalam kitab Syarh al-Fiqh al-Akbar yang telah disebutkan di atas, asy-Syaikh Ali Mulla al-Qari menuliskan sebagai berikut: “Maka barangsiapa yang berbuat zhalim dengan melakukan kedustaan kepada Allah dan mengaku dengan pengakuan-pengakuan yang berisikan penetapan tempat bagi-Nya, atau menetapkan bentuk, atau menetapkan arah; seperti arah depan atau lainnnaya, atau menetapkan jarak, atau semisal ini semua, maka orang tersebut secara pasti telah menjadi kafir” (Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 215).
Masih dalam kitab yang sama, Syaikh Ali Mulla al-Qari juga menuliskan sebagai berikut:
“Barangsiapa berkeyakinan bahwa Allah tidak mengetahui segala sesuatu sebelum kejadiannya maka orang ini benar-benar telah menjadi kafir, sekalipun orang yang berkata semacam ini dianggap ahli bid’ah saja. Demikian pula orang yang berkata bahwa Allah adalah benda yang memiliki tempat, atau bahwa Allah terikat oleh waktu, atau semacam itu, maka orang ini telah menjadi kafir, karena tidak benar keyakinan iman yang ada pada dirinya” (Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 271-272).
Dalam kitab karya beliau lainnya berjudul Mirqat al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih, Syaikh Ali Mulla al-Qari’ menuliskan sebagai berikut:
“Bahkan mereka semua --ulama Salaf-- dan ulama Khalaf telah menyatakan bahwa orang yang menetapkan adanya arah bagi Allah maka orang ini telah menjadi kafir, sebagaimana hal ini telah dinyatakan oleh al-Iraqi. Beliau (al-Iraqi) berkata: Klaim kafir terhadap orang yang telah menetapkan arah bagi Allah tersebut adalah pernyataan al-Imâm Abu Hanifah, al-Imâm Malik, al-Imâm asy-Syafi’i, al-Imâm al-Asy’ari dan al-Imâm al-Baqillani” (Mirqat al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih, j. 3, h. 300).
• Asy-Syaikh al-‘Allâmah Kamaluddin al-Bayyadli al-Hanafi (w 1098 H) dalam karyanya berjudul Isyarat al-Maram Min ‘Ibarat al-Imâm, sebuah kitab akidah dalam menjelaskan perkataan-perkataan al-Imâm Abu Hanifah, menuliskan sebagai berikut:
“Beliau (al-Imâm Abu Hanifah) berkata: “Barangsiapa berkata: Saya tidak tahu apakah Allah berada di langit atau berada di bumi maka orang ini telah menjadi kafir”. Hal ini karena orang yang berkata demikian telah menetapkan tempat dan arah bagi Allah. Dan setiap sesuatu yang memiliki tempat dan arah maka secara pasti ia adalah sesuatu yang baharu --yang membutuhkan kepada yang menjadikannya pada tempat dan arah tersebut--. Pernyataan semacam itu jelas merupakan cacian bagi Allah. Beliau (al-Imâm Abu Hanifah) berkata: “Demikian pula menjadi kafir orang yang berkata: “Allah berada di atas arsy, namun saya tidak tahu arsy, apakah berada di langit atau berada di bumi”. Hal ini karena orang tersebut telah menetapkan adanya tempat bagi Allah, menetapkan arah, juga menetapkan sesuatu yang nyata-nyata sebagai kekurangan bagi Allah, terlebih orang yang mengatakan bahwa Allah berada di arah atas, atau menfikan keagungan-Nya, atau menafikan Dzat Allah yang suci dari arah dan tempat, atau mengatakan bahwa Allah menyerupai makhluk-Nya. Dalam hal ini terdapat beberapa poin penting:
Pertama: Orang yang berkeyakinan bahwa Allah adalah bentuk yang memiliki arah maka orang ini sama saja dengan mengingkari segala sesuatu yang ada kecuali segala sesuatu tersebut dapat diisyarat -dengan arah- secara indrawi. Dengan demikian orang ini sama saja dengan mengingkari Dzat Allah yang maha suci dari menyerupai makhluk-Nya. Oleh karena itu orang semacam ini secara pasti adalah seorang yang telah kafir. Inilah yang diisyaratkan oleh al-Imâm Abu Hanifah dalam perkataannya di atas.
Kedua: Pengkafiran terhadap orang yang menetapkan adanya keserupaan dan tempat bagi Allah. Inilah yang diisyaratkan oleh al-Imâm Abu Hanifah dalam perkataannya di atas, dan ini berlaku umum. -Artimya yang menetapkan keserupaan dan tempat apapun bagi Allah maka ia telah menjadi kafir-. Dan ini pula yang telah dipilih oleh al-Imâm al-Asy’ari, sebagaimana dalam kitab an-Nawzdir ia (al-Imâm al-Asy’ari) berkata: “Barangsiapa berkeyakinan bahwa Allah benda maka orang ini tidak mengenal Tuhannya dan ia telah kafir kepada-Nya”. Sebagaimana hal ini juga dijelaskan dalam kitab Syarh al-Irsyad karya Abu al-Qasim al-Anshari” (Isyarat al-Maram Min ‘Ibarat al-Imâm, h. 200).
• Asy-Syaikh al-‘Allâmah Abd al-Ghani an-Nabulsi al-Hanafi (w 1143 H) dalam karyanya berjudul Fath ar-Rabbani Wa al-Faydl ar-Rahmani menuliskan sebagai berikut:
“Kufur dalam tinjauan syari’at terbagi kepada tiga bagian. Segala macam bentuk kekufuran kembali kepada tiga macam kufur ini, yaitu at-Tasybîh (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), at-Ta’thil (menafikan Allah atau sifat-sifat-Nya), dan at-Takdzib (mendustakan). Adapun at-Tasybîh adalah keyakinan bahwa Allah menyerupai makhluk-Nya, seperti mereka yang berkeyakinan bahwa Allah adalah benda yang duduk di atas arsy, atau yang berkeyakinan bahwa Allah memiliki dua tangan dalam pengertian anggota badan, atau bahwa Allah berbentuk seperti si fulan atau memiliki sifat seperti sifat-sifat si fulan, atau bahwa Allah adalah sinar yang dapat dibayangkan dalam akal, atau bahwa Allah berada di langit, atau barada pada semua arah yang enam atau pada suatu tempat atau arah tertentu dari arah-arah tersebut, atau bahwa Allah berada pada semua tempat, atau bahwa Dia memenuhi langit dan bumi, atau bahwa Allah berada di dalam suatu benda atau dalam seluruh benda, atau berkeyakinan bahwa Allah menyatau dengan suatu benda atau semua benda, atau berkeyakinan bahwa ada sesuatu yang terpisah dari Allah, semua keyakinan semacam ini adalah keyakinan kufur. Penyebab utamanya adalah karena kebodohan terhadap kewajiban yang telah dibebankan oleh syari’at atasnya” (al-Fath ar-Rabbani Wa al-Faidl ar-Rahmani, h. 124).
• Asy-Syaikh al-‘Allâmah Muhammad ibn Illaisy al-Maliki (w 1299 H) dalam menjelaskan perkara-perkara yang dapat menjatuhkan seseorang di dalam kekufuran menuliskan sebagai berikut:
“Contohnya seperti orang yang berkeyakinan bahwa Allah adalah benda atau berkayakinan bahwa Allah berada pada arah. Karena pernyataan semacam ini sama saja dengan menetapkan kebaharuan bagi Allah, dan menjadikan-Nya membutuhkan kepada yang menjadikan-Nya dalam kebaharuan tersebut” (Minah al-Jalil Syarh Mukhtashar Khalil, j. 9, h. 206).
• Al-‘Allâmah al-Muhaddits al-Faqîh asy-Syaikh Abu al-Mahasin Muhammad al-Qawuqji ath-Tharabulsi al-Hanafi (w 1305 H) dalam risalah akidah berjudul al-I’timad Fi al-I’tiqad menuliskan sebagai berikut: “Barangsiapa berkata:
“Saya tidak tahu apakah Allah berada di langit atau berada di bumi”; maka orang ini telah menjadi kafir. -Ini karena ia telah menetapkan tempat bagi Allah pada salah satu dari keduanya-” (al-I’timad Fi al-I’tiqad, h. 5).
• Dalam kitab al-Fatawa al-Hindiyyah, sebuah kitab yang memuat berbagai fatwa dari para ulama Ahlussunnah terkemuka di daratan India, tertulis sebagai berikut:
“Seseorang menjadi kafir karena menetapkan tempat bagi Allah. Jika ia berkata Allah Fi as-Sama’ untuk tujuan meriwayatkan lafazh zhahir dari beberapa berita (hadits) yang datang maka ia tidak menjadi kafir. Namun bila ia berkata demikian untuk tujuan menetapkan bahwa Allah berada di langit maka orang ini menjadi kafir” (al-Fatawa al-Hindiyyah, j. 2, h. 259).
• Asy-Syaikh Mahmud ibn Muhammad ibn Ahmad Khaththab as-Subki al-Mishri (w 1352 H) dalam kitab karyanya berjudul Ithaf al-Ka-inat Bi Bayan Madzhab as-Salaf Wa al-Khalaf Fi al-Mutasyâbihât, menuliskan sebagai berikut:
“Telah berkata kepadaku sebagian orang yang menginginkan penjelasan tentang dasar-dasar akidah agama dan ingin berpijak di atas para ulama Salaf dan ulama Khalaf dalam memahami teks-teks Mutasyâbihât, mereka berkata: Bagaimana pendapat para ulama terkemuka tentang hukum orang yang berkeyakinan bahwa Allah berada pada arah, atau bahwa Dia duduk satu tempat tertentu di atas arsy, lalu ia berkata: Ini adalah akidah salaf, kita harus berpegang teguh dengan keyakinan ini. Ia juga berkata: Barangsiapa tidak berkeyakinan Allah di atas arsy maka ia telah menjadi kafir. Ia mengambil dalil untuk itu dengan firman Allah: “ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa” (QS. Thaha: 5) dan firman-Nya: “A-amintum Man Fi as-Sama’ (QS. al-Mulk: 16). Orang yang berkeyakinan semacam ini benar atau batil? Dan jika keyakinannya tersebut batil, apakah seluruh amalannya juga batil, seperti shalat, puasa, dan lain sebagainya dari segala amalan-amalan keagamaan? Apakah pula menjadi tertolak pasangannya (suami atau istrinya)? Apakah jika ia mati dalam keyakinannya ini dan tidak bertaubat dari padanya, ia tidak dimandikan, tidak dishalatkan, dan tidak dimakamkan di pemakaman kaum muslimin? Kemudian seorang yang membenarkan keyakinan orang semacam itu, apakah ia juga telah menjadi kafir?
Jawaban yang aku tuliskan adalah sebagai berikut: Bismillah ar-Rahman ar-Rahim. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya. Keyakinan semacam ini adalah keyakinan batil, dan hukum orang yang berkeyakinan demikian adalah kafir, sebagaimana hal ini telah menjadi Ijma’ (konsensus) ulama terkemuka. Dalil akal di atas itu adalah bahwa Allah maha Qadim; tidak memiliki permulaan, ada sebelum segala makhluk, dan bahwa Allah tidak menyerupai segala makhluk yang baharu tersebut (Mukhalafah Li al-Hawadits). Dan dalil tekstual di atas itu adalah firman Allah: “Laisa Kamitaslihi Syai’” (QS. asy-Syura: 11). Dengan demikian orang yang berkayakinan bahwa Allah berada pada suatu tempat, atau menempel dengannya, atau menempel dengan sesuatu dari makhluk-Nya seperti arsy, al-kursy, langit, bumi dan lainnya maka orang semacam ini secara pasti telah menjadi kafir. Dan seluruh amalannya menjadi sia-sia, baik dari shalat, puasa, haji dan lainnya. Demikian pula pasangannya (suami atau istrinya) menjadi tertolak. Ia wajib segera bertaubat dengan masuk Islam kembali -dan melepaskan keyakinannnya tersebut-. Jika ia mati dalam keyakinannya ini maka ia tidak boleh dimandikan, tidak dishalatkan, dan tidak dimakamkan dipemakaman kaum muslimin. Termasuk menjadi kafir dalam hal ini adalah orang yang membenarkan keyakinan tersebut. -Semoga Allah memelihara kita dari pada itu semua-. Adapun pernyataannya bahwa setiap orang wajib berkeyakinan semacam ini, dan bahwa siapapun yang tidak berkeyakinan demikian adalah sebagai seorang kafir, maka itu adalah kedustaan belaka, dan sesungguhnya justru penyataannya yang merupakan kekufuran” (Ithaf al-Ka’inat, h. 3-4).
• Al-Muhaddits al-‘Allâmah asy-Syaikh Muhammad Zahid al-Kautsari (w 1371 H), Wakil perkumpulan para ulama Islam pada masa Khilafah Utsmaniyyah Turki menuliskan: “Perkataan yang menetapkan bahwa Allah berada pada tempat dan arah adalah perkataan kufur. Ini sebagaimana dinyatakan oleh para Imam madzhab yang empat, seperti yang telah disebutkan oleh al-Iraqi (dari para Imam madzhab tersebut) dalam kitab Syarh al-Misykat yang telah ditulis oleh asy-Syaikh Ali Mulla al-Qari” (Maqalat al-Kautsari, h. 321).
.
SYIAH & WAHABI BERPAKAT BURUKKAN NAMA DAN KEADAAN UMAT ISLAM

Mohd Asri Bin Abdul Talib bekas Mufti yang dibuang merupakan seorang Syiah+Wahabi
(pengakuan asri sendiri: semasa di Jordan) Asri masa kat Kolej Islam Klang, dia join syiah dan jadi pendokong syiah di KIK, kemudian masa pergi jordan dia jumpa dengan gang wahabi, jadilah dia wahabi pula.... kesian dia tu... :'(
Semasa sebelum ke Jordan, katanya dulu dia dari kumpulan JIM (Jemaah Islah Malaysia) kemudian bila sampai di Jordan di join gang PAS, menjadi pemimpin utama pas di Jordan, ttp semasa tahun 1995 kena tendang dari PAS kerana telah menyebabkan Persatuan Pelajar Malaysia Jordan (PPMJ) dibubarka dek kerenah Asri
Langgan:
Catatan (Atom)
SAMPAIKAN WALAU SATU AYAT
Sila gunakan browser firefox untuk melayari blog ini dengan sempurna. terima kasih
Assalamualaikum.. bismillahirahmanirahim.
" Segala bahan didalam blog ini di ambil, di olah dan ditulis dari pelbagai sumber. Kepada yang ingin mengambil apa2 jua bahan dalam blog ini dengan niat untuk mengembangsebarkan ilmu, tidak perlu meminta izin atau menyertakan link blog ini. Sebarkan dan panjangkanlah kepada semua demi kebaikkan ummah. Semoga info yang ada dapat memberi manfaat walaupun sedikit cuma, dan semoga dengan usaha sekecil ini pastinya tidak akan terlepas dari pandangan Allah.. insyaAllah.. Jika ada kesilapan dari setiap posting, tolong berikan nasihat dan komen. Maaf andai terlancar bahasa tersasar kata-kata. Saya hanya insan biasa yang tidak sunyi dari kesilapan. wallahualam."
Assalamualaikum.. bismillahirahmanirahim.
" Segala bahan didalam blog ini di ambil, di olah dan ditulis dari pelbagai sumber. Kepada yang ingin mengambil apa2 jua bahan dalam blog ini dengan niat untuk mengembangsebarkan ilmu, tidak perlu meminta izin atau menyertakan link blog ini. Sebarkan dan panjangkanlah kepada semua demi kebaikkan ummah. Semoga info yang ada dapat memberi manfaat walaupun sedikit cuma, dan semoga dengan usaha sekecil ini pastinya tidak akan terlepas dari pandangan Allah.. insyaAllah.. Jika ada kesilapan dari setiap posting, tolong berikan nasihat dan komen. Maaf andai terlancar bahasa tersasar kata-kata. Saya hanya insan biasa yang tidak sunyi dari kesilapan. wallahualam."
PERHATIAN!!! BLOG INI TIDAK MEWAKILI MANA-MANA PARTI , NGO DAN SEBAGAINYA. SEGALA TULISAN DI ISI MENGIKUT CITARASA HAMBA SENDIRI DAN HAMBA TIDAK BERTANGGUNGJAWAB ATAS KESELAMATAN DAN KERUGIAN PEMBACA DISEBABKAN BLOG INI..... SEKIAN
PERHATIAN !!!!!!
Sebarang artikle yang termaktub di dalam blog ini tidak semestinya menunjukkan sikap pengendali blog ini. Ambillah yang berfaedah dan tinggalkanlah yang sia - sia........
MENGAPA AKU BERKATA SYIAH RAFIDAH KAFIR ?
Sesungguhnya Allah telah memilih sahabat-sahabat untuk ku, Dia menjadikan mereka sebagai sahabat-sahabatku, mertua-mertuaku dan menantu-menantuku. Nanti akan muncul satu golongan selepas aku akan memburuk-buruk dan memaki hamun mereka.Sekiranya kamu menemui mereka, janganlah kamu mengahwini mereka, janganlah kamu makan dan minum bersama mereka, janganlah kamu berjemaah bersama mereka dan jangan kamu menyembahyangkan jenazah mereka. [Ali al-Muttaqi, Kanz al-‘Ummal, jil 11, m.s : 540 ]
Sabda Rasulullah S.A.W:
Sabda Rasulullah S.A.W:“Tahukah kamu siapakah orang yang muflis?” Jawab mereka: “Orang yang muflis dalam kalangan kami ialah sesiapa yang tiada dirham dan tiada harta”. Sabda baginda: “Orang yang muflis dalam umatku ialah sesiapa yang datang pada Hari Kiamat nanti bersama solat, puasa, zakat, juga dia pernah memaki seseorang, menuduh seseorang, memakan harta seseorang, menumpah darah seseorang dan memukul seseorang. Lalu diberikan kepada orang ini dan itu pahalanya. Jika pahala-pahalanya habis sebelum sempat dilangsaikan kesalahannya, maka diambil dosa-dosa mereka dicampakkan ke atasnya lantas dicampakkan dia ke dalam neraka” (Riwayat Muslim).
Al - Hadis
DARIPADA Abu Said katanya:
Aku mendengar Rasulullah (s.a.w.) bersabda: siapa yang melihat (dan tahu) sebarang kemungkaran, maka hendaklah diubahkannya dengan tangannya (kuasanya), kalau tidak berkuasa, maka (ubahlah) dengan lidahnya, dan kalau tidak mampu juga, maka ubahlah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman (HR Muslim).
Aku mendengar Rasulullah (s.a.w.) bersabda: siapa yang melihat (dan tahu) sebarang kemungkaran, maka hendaklah diubahkannya dengan tangannya (kuasanya), kalau tidak berkuasa, maka (ubahlah) dengan lidahnya, dan kalau tidak mampu juga, maka ubahlah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman (HR Muslim).
KUTIPAN DANA BAGI PEMBANGUNAN SRIBU
Hadis nabi saw : apabila matinya anak adam maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga... yaitu sadhoqah jariah , ilmu yang memberi manfaat dengannya , doa anak yang soleh.
WAKTU SOLAT
Membangun Bersama Islam
"tegakkanlah islam dalam dirimu,nescaya kamu akan melihat islam tertegak di tanah airmu" - Imam As-Syahid Hassan Al-Banna (Pengasas&Mursyidul Am Pertama Ikhwanul Muslimin)
berwaspada dari fitnah moden
Tok guru Nik Aziz
Tok guru Haji saleh