YANG MASIH PANAS...

Hukum mengucapkan ‘Selamat Hari Raya’ orang bukan Islam

Menurut Prof. Dr Abdul Hayei bin Abdul Sukor pensyarah Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya mengucapkan selamat kepada orang bukan Islam sempena hari-hari perayaan mereka seperti hari Krismas, Tahun Baru Cina, Deepavali dan Thaipusam termasuklah antara masaalah furu’ (cabang) yang diperselisihkan oleh para ulama zaman sekarang. Ada di kalangan ulama yang mengharamkannya dan ada juga ulama yang mengharuskannya.

Pendapat yang mengharamkan

Antara ulama yang mengharamkannya ialah Sheikh Muhammad Saleh al-Munajjid, salah seorang ahli majlis fatwa kerajaan Arab Saudi. Beliau berpendapat perbuatan mengucapkan selamat pada hari-hari kebesaran orang bukan Islam adalah bertentangan dengan asas-asas akidah Islam. Beliau berhujah, hari perayaan agama kaum lain pada hakikatnya adalah syiar agama mereka. Umat Islam disuruh tidak meniru syiar dan budaya kaum bukan Islam. Dalam sebuah hadis sahih Rasulullah saw bersabda yang bermaksud, “Barangsiapa meniru syiar sesuatu kaum (bukan Islam), maka ia termasuk dalam golongan mereka ” (Sahih riwayat Abu Daud).

Selain itu, dalam satu kaedah, di mana para ulama Islam telah mengambil ketetapan iaitu redha kepada kekufuran adalah kufur. Justeru mengucapkan selamat Hari Raya kepada orang bukan Islam termasuk rela terhadap kekufuran mereka. Keadaannya sama seperti kita merelai dosa-dosa besar seperti zina, minum arak dan sebagainya.

Pendapat yang mengharuskan

Manakala seorang ulama terkenal Islam merangkap Mufti kerajaan Qatar , Prof. Dr. Yusuf al-Qardhawi berpendapat hukum mengucapkan selamat Hari Raya kepada orang bukan Islam seperti Hari Krismas adalah harus, jika mereka memulakan ucapan selamat Hari Raya kepada kita.

Al-Qardhawi berpendapat, Islam tidak melarang kita berbuat baik terhadap ahli kitab yang tidak bermusuh dengan kita. Kita harus berbuat baik kepada mereka sebagaimana mereka berbuat baik kepada kita. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah Al-Mumthanah ayat 8,

"Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil kepada orang yang tidak memerangi kamu kerana agama (kamu), dan tidak mengeluarkan kamu dari kampong halaman kamu ; sesungguhnya Allah mengasihi orang yang berlaku adil".

Pendapat beliau ini disokong oleh Majlis Fatwa dan Penyelidikan Eropah, dengan fatwa yang dikeluarkan seperti berikut,

Sesungguhnya mengucapkan selamat kepada orang bukan Islam pada hari perayaan mereka merupakan lebih daripada kewajipan jika mereka mengucapkan selamat pada hari perayaan Islam. Hujahnya ialah kerana kita diperintahkan membalas perlakuan baik dengan perlakuan yang serupa dan membalas ucapan selamat dengan ucapan yang sama baiknya. Allah SWT berfirman,

Apabila kamu dihormati dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah menghitungkan segala sesuatu. (Surah An-Nisaa’ : 86)

Oleh yang demikian, tidak ada suatu pun yang menghalang orang Islam daripada mengucapkan ‘selamat’ kepada orang bukan Islam baik secara lisan mahupun tulisan seperti menghantar kad dengan syarat kad yang dihantar tidak mempunyai lambang atau kata-kata agama yang bertentangan dengan prinsip akidah Islam.

Kesimpulan

Sebagai kesimpulan, Prof. Dr. Abdul Hayei bin Abdul Sukor memilih jalan yang lebih sederhana dalam isu ini. Katanya, adalah jelas haram bagi umat Islam menyertai Hari raya kaum bukan Islam seperti memasang lampu warna-warni di sekeliling rumah, menghias rumah dengan pokok krismas, menyertai perarakan Thaipusam dan lain-lain kerana amalan ini ada hubung kait dengan akidah. Begitu juga adalah haram bagi umat Islam jika mengucapkan selamat Hari Raya kepada orang bukan Islam pada hari-hari kebesaran agama mereka jika ianya bermaksud untuk sama-sama berhari raya dengan mereka, merelai kekufuran mereka dan berkasih sayang dengan mereka atas nama agama (mereka).

Tetapi jika maksud ucapan ‘selamat’ pada hari-hari kebesaran kaum bukan Islam itu tidak lebih hanya ikut bercuti pada hari itu, membalas ucapan selamat Hari Raya yang diucapkan terdahulu, maka saya kira pengucapan seumpama ini tidak termasuk dalam hal-hal akidah yang sekaligus menunjukkan rela hati terhadap agama dan kepercayaan mereka. Sama seperti sekiranya mereka menghulurkan makanan yang halal kepada kita dan kita terimanya dengan baik hati, serta mengucapkan terima kasih dengan makanan atau hadiah yang diberi, saya kira ia tidak ada kena mengena dengan akidah, bahkan kita harus menerimanya selagi mana ia adalah halal dan suci.

Demikian juga jika pada hari-hari kebesaran itu merupakan hari kelepasan am, semua pejabat dan kakitangan kerajaan diberi cuti, termasuk kakitangan yang beragama Islam. Saya tidak fikir jika kita bersuka ria kerana bercuti pada hari itu, maka kita boleh dianggap turut membesarkan syiar agama dan budaya kaum bukan Islam.

Wallahualam.

MAULANA MUHAMMAD ILYAS DAN TABLIGH.*

Muqaddimah.

Mungkin jauh sudah kita telah mendengar dan mengenal sosok manusia yang menafkahkan hidup dan matinya demi tegaknya tonggak agama, dan mengajak manusia hingga tidak lalai dari menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang beragama,Islam. Dan dengan usahanya yang tiada kenal kata henti hingga tetes darah penghabisan, tersebarlah pergerakan yang cukup mulia yakni dengan manusia untuk kembali pada agama dan taat pada sang Kholiq. Dialah Maulana Muhammad Ilyas.

Maulana Muhammad Ilyas, adalah pendiri jama`ah tabligh di sub-kontinen Asia Selatan, dia adalah salah seorang yang sangat berpengaruh dan sosok yang sangat masyhur pada abad ke 21 Islam. Disamping kontribusi dia yang sangat besar terhadap perkembangan pergerakan da`wah Islam, maulana Ilyas tidak menaruh banyak perhatian terhadap literatur pergerakan islam moderen.

Lebih khusus, dalam pembahasa ini kita akan melihat sejauh mana usaha yang telah dilakukannya. Dan dengan usaha yang telah dilakukan itu, maka tumbuhlah satu pergerakan yang kita kenal dengan sebutan Tabligh.

Pengetahuan orang-orang barat, bahkan orang Islam, tetap terkontaminasi dengan manisfestasi ion-ion yang spectakuler dan dramatic dari kebangkitan Islam yang meluap-meluap. Literatur yang ada tentang Maulana Ilyas dan pergerakan Tablighnya hampir semuanya dalam bahasa urdu dan ini juga mengandung inspirasi kerja para pemimpin-pemimpinnya dan tulisan-tuisan sebagai kebaktian para pengikut-pengikut dan
pendukung-pendukungnya.

Sejarah Singkat Maulana Ilyas.

Maulana Muhammad Ilyas lahir pada tahun 1885 di sebuah kota kecil di United Province of British India dalam sebuah keluarga yang relijius. Mula-mula dia mendapatkan pendidikan keagamaan di rumah dan selanjutnya pergi ke pusat pendidikan yang cukup terkenal yakni di Deoband dimana dia belajar Quran, Hadits, Fiqh dan pengetahuan Islam lainnya dibawah asuhan orang-orang terkenal Deoband kala itu. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Deoband, maulana Ilyas beralih posisi sebagai pengajar di Madrasah Mazharul `Ulum di Saharanpur (U.P.India).

Problematika Mewat.

Pada masa hidupnya, maulana Ilyas sadar akan “situasi Islam yang muram” di wilayah Mewat dekat New Delhi, dimana mayoritas umat Islam tinggal disana, namun sangat sedikit sekali yang mengamalkan ajaran Islam dan praktek-prakteknya. Maulana Ilyas mengirim sebagian muridnya untuk mensurvei situasi disana, selanjutnya beliau sendiri langsung terjun melakukan beberapa perjalanan untuk berdakwah ketempat tersebut. Maulana Ilyas bertemu dengan orang-orang Islam Mewati yang sama sekali tidak dapat mengucapkan syahadat bahkan tidak pernah sholat walau sekali dalam hidupnya karena mereka tidak mengetahui bagaimana cara melakukan sholat. Beliau menyaksikan umat Islam yang memberi salam antar satu dengan yang lainnya seperti mana cara orang-orang Hindu. Bahkan sebagian lainnya telah mengadopsi ketuhanan Hindu dan mengunjungi tempat-tempat ibadah mereka dan berpartisipasi dalam melakukan ibadah.

Maulana Ilyas secara utuh betul-betul mengetahui dan sadar akan sulitnya permasalahan yang dihadapi oleh Mewati, walaupun demikian, beliau tetap memutuskan untuk membawa mereka kembali kepada lipatan Islam yang hakiki. Pada awal tahun 1920-an, beliau telah menyiapkan sebuah tim dari para pemuda lulusan madrasa Deoband dan Saharanpur kemudian mengirim mereka ke Mewat untuk membangun network mesjid-mesjid dan madrasah-madrasah di seluruh wilayah tersebut. Kemudian dia menyadari, bagaimanapun juga, bahwa ulama Madrasa yang ditreining dalam tradisi Deoband secara simpel telah memperlihatkan sifat asli mereka dan tidak ada kesan istimewa pada masyarakat secara umum. Maulana Ilyas menyimpulkan bahwa madrasa madrasa tersebut telah kekurangan persiapan untuk mencetak para da`i yang memiliki keinginan pergi dari pintu ke pintu (door to door) dan mengingatkan manusia dari kewajiban-kewajiban mereka. Institusi-institusi ini hanya baik untuk mencetak petugas-petugas keagamaan, bukan pekerja Da`wah.

Lahirnya gerakan Tabligh.

Karena adanya ketidakpuasan terhadap madrasa maka maulana Ilyas mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai pengajar di madrasa Mazaharul Uloom di Saharanpur dan kemudian kembali ke Basti Nizamuddin yang terletak di kawasan Delhi lalu memulai da`wahnya. Gerakan Tabligh terlahirkan di tempat tersebut pada tahun 1926. Basti Nizamuddin menjadi tempat tinggalnya sekaligus sebagai markaz besar gerakan Tabligh.
Pergerakan yang baru ini sukses secara dramatik pada waktu yang relatif singkat, dengan adanya usaha keras dari maulana Ilyas, berusaha tanpa letih dan dengan tujuan yang suci. Dan hasilnya banyak orang-orang Islam yang telah mengikuti usaha Maulana Ilyas untuk menda`wahkan ajaran Islam kesetiap kota dan kampung di Mewat. Kesuksesan yang begitu cepat dari hasil usaha Maulana Ilyas dapat kita saksikan dari fakta yang ada bahwa Ijtima` Tabligh untuk pertama kalinya pada November 1941 di Mewat, telah dihadiri oleh 25,000 orang yang kebanyakan dari mereka telah berjalan dari 10 sampai 15 mil untuk menghadiri Ijtima`. Sayyid Abul A`la Maududi, pendiri Jama`at Islam memberikan penghargaan yang indah atas kesuksesan yang spektakuler dari usaha da`wah yang dilakukan oleh maulana Ilyas di Mewat dan sekitar India. Sayyid Abul A`la Maududi juga menggambarkan gerakan Tabligh ini sebagai langkah yang mulia untuk Islamisasi dikalangan masyarakat muslim India.

Misi perjuangan.

Maulana Ilyas bukanlah seorang pemimpin yang karismatik seperti Maulana Mohammad Ali Jauhar pimpinan “Khilafat Movement”, bukan seorang `alim yang terkemuka seperti Abul kalam Azad, pimpinan “the Indian National Congress”. Dia bukan pula orang yang pandai dalam “Public Speaker” seperti Ataullah Shah Bukhari pimpinan “The Ahrar movement”. Tidak juga seperti Abul A`la Maududi Pimpinan Jamaat-e-Islami yang sangat produktif dalam menulis dan pemikir yang cerdas, maulana Ilyas tidak memiliki satu karangan pun dalam hidupnya.

Layaknya missionaris sejati, dia gigih, dan tak henti-henti. Diantara salah satu missi perjalanannya ke mewat, sekali dia pernah dipukul tongkat oleh petani yang coba untuk dipengarungi tentang pentingnya agama dalam kehidupan. Maulana, yang memang sudah lemah fisiknya, jatuh dan tersungkur kelantai.

Keinginannya yang kuat dan ketetapan hatinya yang tak tergoyahkan untuk mencapai setiap muslim dan mengingatkannya tentang kewajiban-kewajibannya sebagai orang yang beriman. Kuat hasratnya mengenai kekayaan rohani terhadap muslim-muslim pengikutnya menyebabkan dia menderita batin yang sangat. Suatu hari seorang teman datang menjenguknya ketika dia berada diatas pembaringan menanti maut. Maulana Ilyas menyambut temannya dengan mengatakan. “orang-orang diluar sana sedang terbakar oleh api pengabaian dan kamu menghabiskan waktu disini hanya untuk mengetahui kesehatanku!”.

Dia menginginkan setiap muslim mengikuti tapaknya, menyampaikan pesan Islam kepada yang lainnya. Dia menyemangati teman-teman dan pengikut-pengikutnya untuk mempersembahkan hidup mereka dalam urusan ini (da`wah). Suatu saat, ketika dia mencoba memeriksa dengan teiliti para pendengarnya untuk melakukan missi secara sukarelawan ke Kanpur, U.P.India, tak seorang pun yang merespon ajakannya. Ketika tampak salah seorang temannya di antara para hadirin, maulana Ilyas bertanya padanya apa yang mencegahnya untuk tidak berangkat ke Kanpur. Temannya menderita penyakit yang serius dan tentunya perjalanan akan menghabiskan waktu selama berminggu. Dia memberitahu maulana Ilyas bahwa sebenarnya dia “hampir mati” dan tak ada jalan baginya untuk melakukan perjalanan. Lalu maulana mengatakan, “jika kamu sedianya sudah mati, maka kamu alangkah baiknya mati di Kanpur.”

Tetap menjaga hubungan antar sesama.

Penting untuk dicatat bahwa ketika maulana Ilyas menjauhkan dirinya dari urusan politik dalam keseharian dan menfokuskan diri pada program secara eksklusif dalam pembentukan muslim yang sadar akan kewajiban-kewajiban agama, dia tidak mengkritisi kelompok-kelompok Islam yang telah menyibukkan diri mereka kedalam dunia politik secara aktif. Sebaliknya, dia tetap menjaga hubungan kordialnya (mesra) terhadap ulama disekolahan Deoband yang berada dalam organisasi politik, Jamiat Ulama-e-Hind, dan Pro-Indian National Congress group, yang kesemuanya aktif dalam politik India. Maulana Ilyas memiliki hubungan yang sama hangatnya terhadap sebagian kelompok di sekolahan Deoband yang pro-Pakistan yang dipimpin oleh Maulana Ashraf Ali Thanvi dan Maulana Shabbir Ahmad Usmani. Bagaimanapun juga dia tetap menolak untuk mengambil posisi pada The Issue of united India vs.a separate Muslim state of Pakistan dengan alasan yang sangat jelas bahwa hal ini akan melenturkan atau mengganggu pergerakan dia dari permasalahan yang mendasar yaitu persoalan agama, dan juga akan menciptakan perselisihan didalam susunan tarafnya. Maulana Ilyas dengan pandangannya bahwa gerakan Tabligh dan kelompok-kelompok Islam yang berorientasi politik, meskipun beroperasi pada dua sisi, namun saling melengkapi kerja antar satu sama lainnya dan dengan demikian tidak seharusnya ada suatu kompetisi dan persaingan diantara mereka.

Penutup.

Suatu ketika seseorang menunjukkan bahwa gerakan maulana Ilyas adalah “dengan focus yang sangat sempit” dan tidak ditujukan kepada issu yang luas tentang pembaharuan socio-politik dalam masyarakat Islam, Maulana meresponnya bahwa fokus yang sempit ini pada fase permulaan pergerakan telah dikehendaki oleh adanya manpower dan bahwasanya pergerakan ini dapat tumbuh mencakup program yang luas dan lengkap pada masa yang akan datang. Hal ini sangat disayangkan bahwa mereka yang menggantikan posisi maulana Ilyas tidak menyadari pandangannya yang luas dan memandang model da`wah Mewat sebagai suatu hal yang sudah ditetapkan untuk selamanya. Sekalipun demikian, buah dari usaha Mualana Ilyas dapat kita saksikan hingga kepenjuru dunia hari ini.

Sumber:
1. Life and Mission of Maulana Mohammad Ilyas, by Syed Abdul Hasan Ali Nadwi.

2. And By Mumtaz Ahmad, Ph.D.

* Makalah ini telah disampaikan dalam forum diskusi Al-Qolam, Islamabad

sumber : darulaman.wirdpress

Pentingnya Dakwah

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata:”Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (Fushshilat: 33-35).

Ayat di atas merupakan bekal utama bagi para aktivis dakwah di jalan Allah (dai), agar selalu semangat dan istiqamah, tidak pernah gentar dan getir, senantiasa menjalankan tugasnya dengan tenang, tidak emosional dan seterusnya. Ayat tersebut diletakkan setelah sebelumnya di awal surat Fushshilat Allah menggambarkan sikap orang-orang yang tidak mau menerima ajaran Allah. “Mereka mengatakan: hati kami tertutup, (maka kami tidak bisa menerima) apa yang kamu serukan kepadanya, pun telinga kami tersumbat, lebih dari itu di antara kami dan kamu ada dinding pemisah.” (Fushshilat: 5).


Bisa dibayangkan bagaimana beratnya tugas dakwah jika yang dihadapi adalah orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran, tidak mau diajak kepada kebaikan, lebih dari itu ia menyerang, memusuhi dan melemparkan ancaman. Setiap disampaikan kepada mereka ajaran Allah, mereka menolaknya dengan segala cara, entah dengan menutup telinga, menutup mata, atau dengan mencari-cari alasan dan lain sebagainya.

Dakwah di jalan Allah adalah kebutuhan pokok manusia. Tanpa dakwah manusia akan tersesat jalan, jauh dari tujuan yang diinginkan Allah swt. Para rasul dan nabi yang Allah pilih dalam setiap fase adalah dalam rangka menegakkan risalah dakwah ini. Di dalam Al-Qur’an, Allah swt tidak pernah bosan mengulang-ulang seruan untuk bertakwa dan menjauhi jalan-jalan setan. Tetapi manusia tetap saja terlena dengan panggilan hawa nafsu. Terpedaya dengan indahnya dunia sehingga lupa kepada akhirat. Dalam surat Al-Infithaar ayat 6 Allah berfirman: yaa ayyuhal insaan maa gharraka birabbikal kariim? (wahai manusia apa yang membuat kamu terpedaya, sehingga kamu lupa terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah?)

Dalam ayat lain: kallaa bal tuhibbuunal aajilah watadzaruunal aakhirah (sekali-kali tidak, sungguh kamu masih mencintai dunia dan meninggalkan akhirat) (Al-Qiyaamah: 20-21). Perhatikan bagaimana pahit getir yang harus ditempuh para pejalan dakwah. Sampai kapan manusia harus terus terombang-ambing dalam gemerlap dunia yang menipu kalau tidak ada seorang pun yang bergerak untuk melakukan dakwah? Di sini tampak bahwa tugas dakwah pada hakikatnya bukan hanya tugas para dai, melainkan tugas semua manusia yang mengaku dirinya sebagai hamba Allah –tak perduli apa profesinya– lebih-lebih mereka yang telah meletakkan dirinya sebagai aktivis dakwah.

Karenanya, persoalan dakwah bukan persoalan nomor dua, melainkan persoalan pertama dan harus diutamakan di atas segala kepentingan. Bila kita mengaku mencintai Rasulullah saw., maka juga harus mengaku bahwa berjuang di jalan dakwah adalah segala-galanya. Karena Rasulullah dan sahabat-sahabatnya tidak saja mengorbankan segala waktu dan hartanya bahkan jiwa raganya untuk dakwah kepada Allah. Bagi mereka rumah dan harta yang telah mereka bangun sekian lama di kota Makkah memang merupakan bagian dari kehidupan yang sangat mahal dan berharga. Tetapi mempertahankan iman dan menegakkan ajaran Allah di bumi adalah di atas semua itu. Karenanya mereka tidak pikir-pikir lagi untuk berhijrah dengan meninggalkan segala apa yang mereka miliki. Mereka benar-benar paham bahwa iman dan dakwah pasti menuntut pengorbanan. Karenanya dalam berbagai pertempuran para sahabat berlomba untuk melibatkan dirinya. Mereka merasa berdosa jika tidak ikut terlibat aktif. Tidak sedikit dari mereka yang telah gugur di medan tempur. Semua ini menggambarkan kesungguhan dan kejujuran mereka dalam menegakkan risalah dakwah yang taruhannya bukan hanya harta benda melainkan juga nyawa.

Dakwah Adalah Tugas Yang Sangat Mulia

Ayat di atas dibuka dengan pernyataan: waman ahsanu qawlan. Ustadz Sayyid Quthub ketika menfasirkan ayat ini berkata: “Kalimat-kalimat dakwah yang diucapkan sang dai adalah paling baiknya kalimat, ia berada pada barisan pertama di antara kalimat-kalimat yang baik yang mendaki ke langit.” (lihat fii dzilaalil qur’an, oleh Sayyid Quthub, vol.5, h. 3121). Kata waman ahsanu Allah ulang di beberapa tempat dalam Al-Qur’an untuk menegaskan tingginya kualitas beberapa hal: Pada surat An-Nisa ayat 125 Allah berfirman: waman ahsanu diinan mim man aslama wajhahahuu lillaah (siapakah yang lebih bagus agamanya dari pada orang yang menyerahkan diri kepada Allah). Dalam Al Maidah ayat 50: waman ahsanu minallahi hukman (siapa yang lebih bagus ajarannya dari pada ajaran Allah). Dan pada ayat di atas: Siapakah yang lebih bagus perkataannya dari pada perkataan para dai di jalan Allah? Perhatikan semua ayat-ayat tersebut secara seksama, betapa tugas dakwah sangat Allah muliakan. Peringkatnya sangat tinggi, setara dengan kualitas hukum Allah dan penyerahan diri kepadaNya secara total.

Adalah suatu keharusan seorang dai, menyerahkan hidupnya kepada Allah swt. Ia tidak kenal lelah menjalani tugas-tugas dakwah. Pun ia tidak mengharapkan keuntungan duniawi di baliknya, kecuali hanyalah ridhaNya. Dalam Surat Yasiin ayat 21 Allah berfirman: “Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” Toh kalaupun Allah membuka jalan rezeki baginya melalui jalan-jalan tak terduga “fadzaalika khairun ‘alaa khair“. Yang penting jangan sampai seorang dai orientasinya dunia. Sebab, bila seorang dai juga berorientasi dunia, kepada apa dia mau berdakwah, bukankah tema utama dakwah adalah ajakan untuk mempersiapkan diri menuju akhirat?

Berdakwah Dengan Amal

Ayat selanjutnya menegaskan pentingnya amal shalih: wa amila shaalihaa. Mengapa? Apa hubungannya dengan dakwah? Bahwa seorang dai jangan hanya ngomong saja, sementara perbuatannya jauh atau bahkan bertentangan dengan apa yang disampaikannya. Benar, bahwa perkataan dakwah adalah paling baiknya perkataan, tetapi itu kalau diikuti dengan amal shalih. Jika tidak, maka perkataan itu akan menjadi bumerang yang akan menyerang sang dai itu sendiri. Dalam Ash Shaf ayat 3 Allah berfirman: “Amat besar kebencian Allah, bila kamu hanya mengatakan tanpa mengerjakannya.”

Karenanya Rasulullah saw. tidak hanya berbicara, melainkan lebih dari itu seluruh perbuatannya merupakan contoh amal shalih. Allah swt. memberikan rekomendasi yang luar biasa dalam surat Al-Qalam ayat 4: “Dan sesungguhnya kamu (Mumhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” Imam Ibn Katsir ketika menafsirkan ayat ini menyebutkan riwayat dari Aisyah ra.: bahwa akhlak Rasulullah saw. adalah Al-Qur’an (lihat Tafsir Ibn Katsir, vol.4, h.629). Dalam hadits-hadits yang diriwayatkan para ulama tidak semua berupa ucapan Rasulullah saw., melainkan banyak sekali yang berupa cerita para sahabat mengenai perilaku dan sikap Rasulullah saw. Banyak sekali hadits-hadits yang berupa ucapan pendek, to the point, tidak bertele-tele, mudah dihafalkan. Suatu gambaran betapa keberhasilan dakwah Rasulullah saw. adalah karena setiap yang diucapkannya langsung ada contohnya dalam bentuk amal nyata dari sikap dan akhlaknya yang sangat mulia.

Menampilkan Diri Sebagai Seorang Muslim Adalah Dakwah

Di antara ciri utama berdakwah kepada Allah, tidak saja mengamalkan ajaranNya dan menjauhi segala yang dilarang melainkan lebih dari itu menampilkan diri sebagai seorang Muslim di manapun ia berada, Allah berfirman pada ayat berikutnya: wa qaala innanii minal muslimiin. Dengan kata lain tidak cukup seorang mengamalkan Islam hanya dengan shalat, membayar zakat dan menjalankan haji, sementara dalam hidup sehari-harinya tidak mencerminkan Islam, misalnya ia tidak merasa berdosa dengan mempertontonkan auratnya di mana-mana, bergandengan tangan dengan wanita bukan istrinya di depan banyak orang, melakukan kemaksiatan, kezhaliman, korupsi, judi, perzinaan dengan terang-terangan. Anehnya, dia merasa malu untuk menampilkan Islam dengan sebenar-benarnya. Ia tidak merasa bangga sebagai seorang muslim. Bahkan Islam yang dipeluk digerogoti ajarannya sedikit demi sedikit, dengan sikap memperdebatkan prinsip-prinsipnya yang sudah baku, mencari-cari dalil untuk membangun keraguan terhadap kebenaran Islam.

Seorang aktivis dakwah sejati selalu bangga dengan identitasnya sebagai seorang muslim. Ia tidak takut menampilkan Islam sebagai pribadinya. Sungguh krisis umat Islam di mana-mana kini adalah krisis keberanian untuk menampilkan wajah Islam yang sebenarnya. Islam mengajarkan kedisiplinan, kebersihan, dan akhlak mulia, tetapi umat Islam di mana-mana selalu terkesan jorok, kotor dan beringas. Islam mengajarkan kejujuran, dan ketegasan dalam menegakkan hukum, tetapi penipuan dan korupsi justru merebak di tengah masyarakat yang mayoritasnya umat Islam. Mengapa ini semua terjadi? Bukankah orang-orang non-muslim sudah sedemikian jauh menampilkan dirinya sebagai bangsa yang bersih, disiplin dan lain sebagainya?

Benar, jika kemudian saya mendengar penyataan salah seorang muallaf : “Saya masuk Islam bukan karena umat Islam, melainkan karena kebenaran Islam. Seandainya umat Islam mampu menampilkan Islam dengan sebenar-benarnya, niscaya mereka akan berbondong-bondong masuk Islam.” Bahkan ada ungkapan yang sangat terkenal dan diulang-ulang hampir dalam setiap seminar di dalam di luar negeri: al-Islam mahjuubun bil muslimiin (kebenaran Islam terhalang oleh orang-orang-orang Islam sendiri). Perhatikan realitasnya, apa yang sedang berlangsung dalam diri umat Islam di mana-mana. Ya, kalau tidak berperang di antara mereka sendiri, mereka dizhalimi oleh pemimpinnya sendiri yang mengaku muslim.

Karenanya menampilkan Islam secara jujur dalam diri sebagai pribadi, dalam rumah tangga, dalam bermasyarakat dan dalam berbangsa dan bernegara adalah sebuah keniscayaan, dan menurut ayat di atas termasuk perbuatan yang sangat baik dan mulia. Oleh sebab itu pada ayat berikutnya Allah mengajarkan agar seorang dai selalu menyadari posisinya yang sangat mulia. Jangan sampai –karena suatu saat kelak menghadapi cobaan berupa munculnya orang-orang yang menolak dakwahnya dan lain sebagainya– ia kemudian emosional. Sehingga perkataannya lepas kontrol, lalu membalas cercaan mereka dengan cercaan. Atau lebih dari itu ia kemudian putus asa, lalu menjadi lesu dan patah arang. Akibatnya dakwah yang sangat Allah muliakan, ia lalaikan begitu saja.

Tidak, tidak demikian pribadi seorang aktivis dakwah. Seorang aktivis dakwah selalu menjiwai ayat ini: walaa tastawil hasanatu walas sayyi’ah. Benar, tidak akan pernah sama antara kebaikan dan keburukan. Kata-kata dakwah tetap lebih mulia dari kata-kata pencerca. Pertahankan kata-kata yang baik itu untuk terus menghiasi lidah sang dai. Jangan sampai terpengaruh emosi para pencerca lalu ditukar menjadi cercaan pula. Karenanya Allah ajarkan konsep: idfa’ billatii hiya ahsan, balaslah dengan ucapan yang lebih baik dan dengan cara yang lebih baik. Kata ahsan juga diulang pada ayat lain: wajadilhum billatii hiya ahsan, suatu sikap yang harus selalu menghiasi pribadi seorang dai setiap saat dan di manapun ia berada, lebih-lebih saat menghadapi penolakan, cercaan dan makian. Di saat seperti itu seorang dai, harus benar-benar tampil sempurna, bijak dan tenang. Mengapa? Sebab ia membawa misi Allah Yang Maha Perkasa. Maka ia harus selalu yakin dan percaya diri dengan posisinya. Tidak usah minder apalagi rendah diri.

Bahkan pada ayat selanjutnya Allah mengajarkan agar ia selalu tampil dengan penuh persahabatan, sekalipun mereka mencerca dengan penuh permusuhan. Perhatikan bagaimana Allah mengajarkan cara berdakwah yang efektif, di mana kemudian cara ini menjadi salah satu pilar utama dalam ilmu komunikasi modern. Setelah itu Allah menegaskan bahwa untuk itu semua seorang dai tidak cukup hanya dengan bermodal semangat, melainkan lebih dari itu harus mempunyai sifat sabar dan selalu memohon kepada Allah agar mendapatkan nasib yang baik, di dunia dan di akhirat. Tanpa sifat sabar dan doa untuk memperoleh nasib yang baik, segala proses akan menjadi sia-sia. Sebab segala kemenangan tidak akan pernah dicapai tanpa pertolonganNya

sumber : ariesblog

Akhlaq & Aqidah Istri Idaman

Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel yang berjudul “Istri Idaman Karir Wanita Mulia“. Pada pembahasan kali ini akan dipaparkan sedikit mengenai akhlaq bagi seorang Istri dari kalangan kaum muslimin yang mencari kemulian sejati. Semoga kaum muslimah yang membaca artikel ini tersentuh nuraninya dan memperoleh jalan hidayah mana kala selama ini telah terjatuh dalam jurang kenistaan dan jebakan-jebakan musuh Islam.Seorang isteri idaman harus memahami arti pentingnya aqidah islamiyah yang shahihah, karena sah tidaknya suatu amal tergantung kepada benar dan tidaknya aqidah seseorang. Isteri idaman adalah sosok yang selalu bersemangat dalam menuntut ilmu agama sehingga dia dapat mengetahui ilmu-ilmu syar’i baik yang berhubungan dengan aqidah, akhlak maupun dalam hal muamalah sebagaimana semangatnya para shahabiyah dalam menuntut ilmu agama Islam, mereka bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk menghilangkan kebodohan mereka dan beribadah kepada Allah di atas cahaya ilmu.

Sebagaimana riwayat dibawah ini:
Dari Abu Said Al Khudri dia berkata: Pernah suatu kali para wanita berkata kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Kaum laki-laki telah mengalahkan kami, maka jadikanlah satu hari untuk kami, Nabi pun menjanjikan satu hari dapat bertemu dengan mereka, kemudian Nabi memberi nasehat dan perintah kepada mereka. Salah satu ucapan beliau kepada mereka adalah: “Tidaklah seorang wanita di antara kalian yang ditinggal mati tiga anaknya, kecuali mereka sebagai penghalang baginya dari api nereka. Seorang wanita bertanya: “Bagaimana kalau hanya dua?” Beliau menjawab: “Juga dua.” (HR. Al-Bukhari No 1010)

Seorang isteri yang aqidahnya benar akan tercermin dalam tingkah lakunya misalnya:


◦Dia hanya bersahabat dengan wanita yang baik.

◦Selalu bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Rabbnya.

◦Bisa menjadi contoh bagi wanita lainnya.



Akhlak Isteri Idaman.

•Berusaha berpegang teguh kepada akhlak-akhlak Islami yaitu: Ceria, pemalu, sabar, lembut tutur katanya dan selalu jujur.

•Tidak banyak bicara, tidak suka merusak wanita lain, tidak suka ghibah (menggunjing) dan namimah (adu domba).

•Selalu berusaha untuk menjaga hubungan baik dengan isteri suaminya yang lain (madunya) jika suaminya mempunyai isteri lebih dari satu.

•Tidak menceritakan rahasia rumah tangga, diantaranya adalah hubungan suami isteri ataupun percekcokan dalam rumah tangga. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya di antara orang yang terburuk kedudukan-nya disisi Allah pada hari kiamat yaitu laki-laki yang mencumbui isterinya dan isteri mencumbui suaminya kemudian ia sebar luaskan rahasianya.” (HR. Muslim 4/157)

Isteri idaman di rumah suaminya

•Membantu suaminya dalam kebaikan. Merupakan kebaikan bagi seorang isteri bila mampu mendorong suaminya untuk berbuat baik, misalnya mendo-rong suaminya agar selalu ihsan dan berbakti kepada kedua orang tuanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah.” (Al Ahqaf 15)

•Membantunya dalam menjalin hubungan baik dengan saudara-saudaranya.
•Membantunya dalam ketaatan.
•Berdedikasi (semangat hidup) yang tinggi.
•Ekonomis dan pandai mengatur rumah tangga.

•Bagus didalam mendidik anak.
•Penampilan:
Di dalam rumah, seorang isteri yang shalehah harus selalu memperhatikan penampilannya di rumah suaminya lebih-lebih jika suaminya berada di sisinya maka Islam sangat menganjurkan untuk berhias dengan hal-hal yang mubah sehingga menyenangkan hati suaminya.
Jika keluar rumah, seorang isteri yang sholehah harus memperhati-kan hal-hal berikut: Harus minta izin suami, Harus menutup aurat dan tidak menampakkan perhiasannya, Tidak memakai wangi-wangian, Tidak banyak keluar kecuali untuk tujuan syar’i atau keperluan yang sangat mendesak.

sumber : ruangmuslimah

Pribadi Wanita Muslimah Sebagaimana Yang Dikehendaki Islam

Kita sangat perlu untuk membahas materi ini karena beberapa alasan. Diantara alasan tersebut adalah apa yang kita saksikan dalam kehidupan sebagian wanita muslimah di zaman ini. Kehidupan dengan segala bentuk ‘keanehannya’. Dalam beberapa hal begitu serius, tapi dalam hal-hal yang lain sangat kurang dan jauh dari nilai-nilai agama.

Sebagai contoh, kita bisa menyaksikan seorang wanita muslimah yang shalehah, melaksanakan syiar-syiar Islam. Namun, tidak menghiraukan kesehatan dan kebersihan mulut dan dirinya. Tidak peduli dengan kesehatan dan aroma yang keluar dari mulut atau tubuhnya. Atau sebaliknya, begitu besar perhatiannya terhadap kesehatan dan kebersihan dirinya tapi melalaikan ibadah dan pelaksanaan syiar-syiar Islam.Contoh lain, kita dapati ada seorang muslimah mencurahkan perhatiannya pada ibadah tapi tidak memiliki pandangan yang benar tentang Islam yang menyeluruh, ‘bagaimana Islam menyikapi alam, kehidupan dan manusia.’

Ada yang semangat belajar Islamnya baik. Antusias menghadiri majelis-majelis ilmu, tapi tidak menjaga lisannya dari ghibah (menggunjing) dan namimah (mengadu domba).

Ada yang hubungan pribadinya dengan Alloh Subhanahu wa Ta’ala baik, tapi tidak menjaga hubungan baik dengan tetangga dan teman-temannya.

Ada Yang hubungannya dengan teman-teman dan tetangganya baik tapi tidak melaksanakan dengan baik hak-hak orang tua. Kurang-kalau tidak dikatakan sama sekali tidak-mereka dalam berbakti kepada kedua orang tuanya.

Ada yang berbakti kepada kedua orang tuanya tetapi tidak memenuhi hak-hak suaminya. Tampil dengan dandanan indah saat menghadiri pertemuan-pertemuan dengan para wanita tetapi tidak pernah memperbaiki penampilannya di depan suaminya.

Ada yang berbakti kepada suaminya tetapi tidak membantu suaminya untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Atau tidak mendukung suaminya untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan beramal shaleh.

Ada yang berbakti kepada suaminya tapi kurang memperhatikan pembinaan dan pembentukan kepribadian anak-anaknya. Kurang memperatikan perkembangan kejiwaaan dan akal mereka. Kurang memperhatikan lingkungan sekitarnya yang memberikan pengaruh kepada putra-puterinya.

Ada yang memperhatikan itu semua terapi kurang silaturahimnya kepada saudara-saudaranya.

Ada yang silaturahim terhadap keluarganya baik, tapi hubungannya dengan lingkungan sekitarnya tidak baik. Sibuk dengan urusan pribadinya. Tidak peduli dengan persoalan kaum muslimin dan muslimat.

Ada yang memperhatikan persoalan pribadi dan umat islam tetapi kurang memperhatikan pengembangan pengetahuannya. Tidak menambah pengetahuannya dengan belajar dan terus membaca.

Ada yang sibuk dengan belajar tetapi mengabaikan urusan rumah tangga, putera puterinya dan suaminya.

Kalau kita merasa heran dari ini semua, keheranan kita akan bertambah ketika kita mengetahui bahwa itu semua muncul dari para wanita muslimah yang memiliki tingkat kesadaran yang cukup baik terhadap agama ini. Dari para wanita muslimah yang tumbuh dalam lingkungan Islam dan memiliki bekal pengetahuan agama yang tidak sedikit! Ini kadang-kadang dikarenakan tidak peduli atau tidak memiki pandangan yang utuh yang telah diajarkan Islam. Pandangan yang menyeluruh tentang manusia, kehidupan, dan alam sekelilingnya. Pandangan yang mendorong seseorang untuk melihat segala sesuatu dengan seimbang. Tidak memprioritaskan satu aspek dengan mengorbankan aspek lain.

Orang yang memperhatikan dengan cermat ayat-ayat Qur’an dan hadits-hadits akan mendapati begitu banyaknya dalil yang menjelaskan perilaku yang seharusnya dimiliki wanita muslimah dalam hubungannya dengan Rabbnya, pembentukan pribadinya dan hubungannya dengan orang lain. Tatanan hidup yang mengatur segala sesuatu dari yang besar sampai yang kecil. Semua nash tersebut akan memberikan rambu-rambu yang mengantarkan pada kehidupan yang terarah dan seimbang. Kehidupan yang menjamin kebahagiaan, kesuksesan di dunia dan dan keberuntungan yang sangat besar di hari kemudian.

Semua ini yang telah digariskan oleh Islam dalam Al-Qur’an dan sunnah akan mengantarkan seorang wanita muslimah mendapatkan kepribadiannya yang asli. Kepribadian yang sejalan dengan fitrahnya. Sehingga melahirkan wanita muslimah yang unggul, mulia dan istimewa dalam perasaan, pemikiran, prilaku dan hubungannya.

Mencapai tingkat tersebut sangatlah penting bagi kehidupan umat manusia secara umum karena wanita memiliki pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan generasi mendatang, mencetak para pejuang, menanamkan nilai-nilai, menghiasi kehidupan dengan cinta, kasih sayang dan keindahan serta memenuhi rumah tangga dengan rasa aman, tenang, tentram dan damai.

Wanita muslimah adalah satu-satunya wanita yang sanggup menerangi dunia wanita modern yang telah jenuh dengan filsafat materialisme dan pola hidup jahiliyah yang mendominasi kehidupan masa kini. Hal itu dengan mengenalkan dirinya, menghadapkan dirinya pada sumber permikiran yang murni untuk kemudian menata kembali kepribadiannya yang asli yaitu kepribadian yang telah dibentuk oleh Al-Qur’an dan As Sunnah.

Mudah-mudahan Allah Subhaanahu Wata’aala memberikan taufiq pada kita semua untuk istiqamah dalam agama yang telah dibawa Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

(Sumber Rujukan: Jati Diri Wanita Muslimah oleh Syaikh Ali Al-Hasyimi)

sumber :ruangmuslimah

Pengertian dan ruang lingkup fiqh

Fiqh ertinya faham atau tahu. Menurut istilah yang digunakan para ahli Fiqh (fuqaha). Fiqh itu ialah ilmu yang menerangkan hukum-hukum syari’at Islam yang diambil dari dalil-dalilnya yang terperinci. Menurut Hasan Ahmad Al-Khatib: Fiqhul Islami ialah sekumpulan hukum syara’, yang sudah dibukukan dalam berbagai madzhab, baik dari madzhab yang empat atau dari madzhab lainnya, dan yang dinukilkan dari fatwa-fatwa sahabat thabi’in, dari fuqaha yang tujuh di Makkah, di Madinah, di Syam, di Mesir, di Iraq, di Bashrah dan sebagainya. Fuqaha yang tujuh itu ialah Sa’id Musayyab, Abu Bakar bin Abdurrahman, ‘Urwah bin Zubair, Sulaiman Yasar, Al-Qasim bin Muhammad, Charijah bin Zaid, dan Ubaidillah Abdillah.


Dilihat dari segi ilmu pengetahuan yangg berkembang dalam kalangan ulama Islam, fiqh itu ialah ilmu pengetahuan yang membicarakan/membahas/memuat hukum-hukum Islam yang bersumber bersumber pada Al-Qur’an, Sunnah dalil-dalil Syar’i yang lain; setelah diformulasikan oleh para ulama dengan mempergunakan kaedah-kaedah Ushul Fiqh. Dengan demikian bererti bahawa fiqh itu merupakan formulasi dari Al-Qur’an dan Sunnah yang berbentuk hukum amaliyah yang akan diamalkan oleh ummatnya. Hukum itu berbentuk amaliyah yang akan diamalkan oleh setiap mukallaf (Mukallaf ertinya orang yang sudah dibebani/diberi tanggungjawab melaksanakan ajaran syari’at Islam dengan tanda-tanda seperti baligh, berakal, sedar, sudah masuk Islam).

Hukum yang diatur dalam fiqh Islam itu terdiri dari hukum wajib, sunat, mubah, makruh dan haram; di samping itu ada pula dalam bentuk yang lain seperti sah, batal, benar, salah, berpahala, berdosa dan sebagainya.

Di samping hukum itu ditunjukan pula alat dan cara (melaksanakan suatu perbuatan dalam menempuh garis lintas hidup yang tak dapat dipastikan oleh manusia liku dan panjangnya. Sebagai makhluk sosial dan budaya manusia hidup memerlukan hubungan, baik hubungan dengan dirinya sendiri ataupun dengan sesuatu di luar dirinya. Ilmu fiqh membicarakan hubungan itu yang meliputi kedudukannya, hukumnya, caranya, alatnya dan sebagainya. Hubungan-hubungan itu ialah:

a.
Hubungan manusia dengan Allah, Tuhannya dan para Rasulullah;

b.
Hubungan manusia dengan dirinya sendiri;

c.
Hubungan manusia dengan keluarga dan tetangganya;

d.
Hubungan manusia dengan orang lain yang seagama dengan dia;

e.
Hubungan manusia dengan orang lain vang tidak seagama dengan dia;

f.
Hubungan manusia dengan makhluk hidup yang lain seperti binatang dan lainnya;

g.
Hubungan manusia dengan benda mati dan alam semesta;

h.
Hubungan manusia dengan masyarakat dan lingkungannya;

i.
Hubungan manusia dengan akal fikiran dan ilmu pengetahuan; dan

j.
Hubungan manusia dengan alam ghaib seperti syaitan, iblis, syurga, neraka, alam barzakh, yaumil hisab dan sebagainya.


Hubungan-hubungan ini dibicarakan dalam fiqh melalui topik-topik bab permasalahan yang mencakup hampir seluruh kegiatan hidup perseorangan, dan masyarakat, baik masyarakat kecil seperti sepasang suami-isteri (keluarga), mahupun masyarakat besar seperti negara dan hubungan internasional, sesuai dengan macam-macam hubungan tadi. Meskipun ada perbezaan pendapat para ulama dalam menyusun urutan pembahasaan dalam membicarakan topik-topik tersebut, namun mereka tidak berbeza dalam menjadikan Al-Qur’an, Sunnah dan Ijtihad sebagai sumber hukum. Walaupun dalam pengelompokan materi pembicaraan mereka berbeza, namun mereka sama-sama mengambil dari sumber yang sama.

Kerana rumusan fiqh itu berbentuk hukum hasil formulasi para ulama yang bersumber pada Al-Qur’an, Sunnah dan Ijtihad, maka urutan dan luas pembahasannya bermacam-macam. Setelah kegiatan ijtihad itu berkembang, muncullah imam-imam madzhab yang diikuti oleh murid-murid mereka pada mulanya, dan selanjutnya oleh para pendukung dan penganutnya. Di antara kegiatan para tokoh-tokoh aliran madzhab itu, terdapat kegiatan menerbitkan topik-topik (bab-bab) pembahasan fiqh. Menurut yang umum dikenal di kalangan ulama fiqh secara awam, topik (bab) pembahasan fiqh itu adalah empat, yang sering disebut Rubu’:

-
Rubu’ ibadat;

-
Rubu’ muamalat;

-
Rubu’ munakahat; dan

-
Rubu’ jinayat.


Ada lagi yang berpendapat tiga saja; iaitu: bab ibadah, bab mu’amalat, bab ‘uqubat. Menurut Prof. T.M. Hasbi Ashiddieqqi, bila kita perinci lebih lanjut, dapat dikembangkan menjadi 8 (delapan) topik (bab):

a. Ibadah

Dalam bab ini dibicarakan dan dibahas masalah masalah yang dapat dikelompokkan ke dalam kelompok persoalan berikut ini:

1.
Thaharah (bersuci);

2.
Ibadah (sembahyang);

3.
Shiyam (puasa);

4.
Zakat;

5.
Zakat Fithrah;

6.
Haji;

7.
Janazah (penyelenggaraan jenazah);

8.
Jihad (perjuangan);

9.
Nadzar;

10.
Udhiyah (kurban);

11.
Zabihah (penyembelihan);

12.
Shayid (perburuan);

13.
‘Aqiqah;

14.
Makanan dan minuman.


b. Ahwalusy Syakhshiyyah

Dalam bab ini dibicarakan dan dibahas masalah-masalah yang dapat dikelompokkan ke dalam kelompok persoalan peribadi (perorangan), kekeluargaan, harta warisan, yang meliputi persoalan:

1.
Nikah;

2.
Khithbah (melamar);

3.
Mu’asyarah (bergaul);

4.
Nafaqah;

5.
Talaq;

6.
Khulu’;

7.
Fasakh;

8.
Li’an;

9.
Zhihar;

10.
Ila’;

11.
‘Iddah;

12.
Rujuk;

13.
Radha’ah;

14.
Hadhanah;

15.
Wasiat;

16.
Warisan;

17.
Hajru; dan

18.
Perwalian.


c. Muamalah Madaniyah

Biasanya disebut muamalah saja. Dalam bab ini dibicarakan dan dibahas masalah-masalah yang dikelompokkan ke dalam kelompok persoalan harta kekayaan, harta milik, harta keperluan, cara mendapatkan dan menggunakan, yang meliputi masalah:

1.
Buyu’ (jual-beli);

2.
Khiyar;

3.
Riba (renten);

4.
Sewa-menyewa;

5.
Hutang-piutang;

6.
Gadai;

7.
Syuf’ah;

8.
Tasharruf;

9.
Salam (pesanan);

10.
Jaminan (borg);

11.
Mudharabah dan Muzara’ah;

12.
Pinjam-meminjam;

13.
Hiwalah;

14.
Syarikah;

15.
Wadi’ah;

16.
Luqathah;

17.
Ghasab;

18.
Qismah;

19.
Hibah dan Hadiyah;

20.
Kafalah;

21.
Waqaf*;

22.
Perwalian;

23.
Kitabah; dan

24.
Tadbir.


*Dari segi niat dan manfaat, waqaf ini kadang-kadang dimasukkan dalam kelompok ibadah; tetapi dari segi barang/benda/harta dimasukkan ke dalam kelompok muamalah.

d. Muamalah Maliyah

Kadang-kadang disebut Baitul maal saja. Dalam bab ini dibicarakan dan dibahas masalah-masalah yang dapat dikelompokkan ke dalam kelompok persoalan harta kekayaan milik bersama, baik masyarakat kecil atau besar seperti negara (perbendaharaan negara = baitul mal). Pembahasan di sini meliputi:

1.
Status milik bersama baitul mal;

2.
Sumber baitul mal;

3.
Cara pengelolaan baitul mal;

4.
Macam-macam kekayaan atau materi baitul mal;

5.
Objek dan cara penggunaan kekayaan baitul mal;

6.
Kepengurusan baitul maal; dan lain-lain.


e. Jenayah dan ‘Uqubah (pelanggaran dan hukuman)

Biasanya dalam kitab-kitab fiqh ada yang menyebut jinayah saja. Dalam bab ini di bicarakan dan dibahas masalah-masalah yang dapat dikelompokkan ke dalam kelompok persoalan pelanggaran, kejahatan, pembalasan, denda, hukuman dan sebagainya. Pembahasan ini meliputi:

1.
Pelanggaran;

2.
Kejahatan;

3.
Qishash (pembalasan);

4.
Diyat (denda);

5.
Hukuman pelanggaran dan kejahatan;

6.
Hukum melukai/mencederai;

7.
Hukum pembunuhan;

8.
Hukum murtad;

9.
Hukum zina;

10.
Hukuman Qazaf;

11.
Hukuman pencuri;

12.
Hukuman perampok;

13.
Hukuman peminum arak;

14.
Ta’zir;

15.
Membela diri;

16.
Peperangan;

17.
Pemberontakan;

18.
Harta rampasan perang;

19.
Jizyah;

20.
Berlumba dan melontar.


f. Murafa’ah atau Mukhashamah

Dalam bab ini dibicarakan dan dibahas masalah-masalah yang dapat dikelompokkan ke dalam kelompok persoalan peradilan dan pengadilan. Pembahasan pada bab ini meliputi:

1.
Peradilan dan pendidikan;

2.
Hakim dan Qadi;

3.
Gugatan;

4.
Pembuktian dakwaan;

5.
Saksi;

6.
Sumpah dan lain-lain.


g. Ahkamud Dusturiyyah

Dalam bab ini dibicarakan dan dibahas masalah-masalah yang dapat dikelompokkan ke dalam kelompok persoalan ketatanegaraan. Pembahasan ini meliputi:

1.
Kepala negara dan Waliyul amri;

2.
Syarat menjadi kepala negara dan Waliyul amri;

3.
Hak dan kewajiban Waliyul amri;

4.
Hak dan kewajiban rakyat;

5.
Musyawarah dan demokrasi;

6.
Batas-batas toleransi dan persamaan; dan lain-lain


h. Ahkamud Dualiyah (hukum internasional)

Dalam bab ini dibicarakan dan dibahas masalah-masalah yang dapat dikelompokkan ke dalam kelompok masalah hubungan internasional. Pembicaraan pada bab ini meliputi:

1.
Hubungan antara negara, sama-sama Islam, atau Islam dan non-Islam, baik ketika damai atau dalam situasi perang;

2.
Ketentuan untuk orang dan damai;

3.
Penyerbuan;

4.
Masalah tawanan;

5.
Ufti, Pajak, rampasan;

6.
Perjanjian dan pernyataan bersama;

7.
Perlindungan;

8.
Ahlul ‘ahdi, ahluz zimmi, ahlul harb; dan

9.
Darul Islam, darul harb, darul mustakman.


Setelah memperhatikan begitu luasnya ruang lingkup pembahasan fiqh. dapatlah kita bayangkan seluas apa pula ruang lingkup pengajaran agama.


Sumber : www.nurulhidayah.com

“Qawaid Maqasidiyyah” Imam Syatibi Dalam Hukum Perkaitan Antara Tiga “Maqasid Syariah”

Takrif Maqasid Syariah

Ulamak-ulamak terdahulu yang membincangkan tentang maqasid tidak pun mentakrifkan maksud maqasid. Bahkan, Syeikhul Maqasid, Imam as-Syatibi sendiri tidak pun memberikan takrifan khas mengenainya. Boleh jadi, sebab kenapa mereka tidak mentakrifkan maqasid adalah kerana perkara ini sudah pun makruf di kalangan mereka. Beberapa ulamak sekarang cuba mentakrifkan makna maqasid. Dr. Ahmad ar-Raisuniyy telah mentakrifkannya sebagai:
إن مقاصد الشريعة هي الغايات التي وضعت الشريعة لأجل تحقيقها لمصلحة العباد
“Maqasid Syariah ialah tujuan (sebenar) yang ingin dihasilkan bagi ketetapan hukum Syarak (dengan tujuan) untuk kemaslahatan manusia”[2].

Dan mempelajari maqasid Syariah merupakan perkara yang sangat penting, terutamanya kepada para fuqaha’, kerana ia merupakan syarat untuk berijtihad. Orang yang tidak memahami maqasid Syariah pula dibimbangi akan memahami Syariah bukan dengan kehendak Syariah.

Pembahagian Maqasid Syariah Kepada Tiga Bahagian

Tingkatan maqasid Syarak dibahagikan kepada tiga bahagian, iaitu “dhoruriyyat”, “hajiyyat” dan “tahsiniyat”[3]. Menurut Dr Yusof al-Alim[4], pembahagian maslahah kepada tiga bahagian ini sebenarnya adalah perkara ijtihadi dan muncul selepas zaman sahabat, tabien dan juga para imam mazhab. Dan dalil kepada pembahagian maslahah ini kepada tiga bahagian ini ialah istiqra’ (kaji selidik) para ulamak. Ini kerana, setelah mereka memerhatikan nas-nas syarak, samada nas juz’iy atau kulliy, nas am, mutlaq dan muqayyad, mereka dapati semua nas tersebut beredar dalam menjaga tiga perkara tadi[5]. Sekalipun pembahagian ini adalah perkara ijtihadi, namun ia adalah satu perkara yang qath’ie. Ini kerana ia merupakan asas agama, dan asas agama adalah satu perkara yang qath’ie yang tidak berubah. Berkata Imam Syatibi: “Kedudukan Syarak menjaga tiga asas, iaitu “dhoruriyy”, hajiyy dan tahsiniyy mestilah berdasarkan kepada dalil. Dan dalil itu, samada dalil zhonni atau dalil qathie. Dan kalaulah ia dalil yang zhonni, maka ia adalah batil, kerana ia merupakan satu asas daripada asas-asas Syariah, bahkan ia merupakan asas kepada asas-asasnya (Syariah). Dan asas-asas Syariah adalah satu perkara yang qathie…[6]

Takrif Dhoruriyyat

Imam Syatibi mentakrifkan “dhoruriyyat” dengan katanya[7]:
فأما الضرورية فمعناها أنها لا بد منها في قيام مصالح الدين والدنيا بحيث إذا فقدت لم تجر مصالح الدنيا على استقامة بل على فساد وتهارج وفوت حياة وفي الأخرى فوت النجاة والنعيم والرجوع بالخسران المبين

Ertinya: “Dhoruriyyat itu ialah satu perkara yang menjadi kemestian dalam kehidupan manusia samada dalam perkara keagamaan ataupun keduniaan, sekira-kira jika ia tiada nescaya tidak akan berjalan kemaslahatan dunia itu dengan baik, bahkan akan berada dalam kerosakan, kacau bilau dan hilangnya kehidupan. Dan di akhirat pula hilangnya kejayaan dan kenikmatan serta kembali dengan kerugian yang nyata dengan mendapat azab”.

Dhoruriyyat itu terhimpun dalan lima perkara, iaitu menjaga agama, nyawa, keturunan (termasuk maruah), akal dan juga harta. Dan menjaga kelima-lima perkara ini adalah satu perkara yang disepakati oleh seluruh umat Islam, sekalipun tiada nas yang khusus menyatakannya. Ini kerana kesemua nas Syarak menunjukkan demikian, dan ilmu tentangnya adalah ilmu yang “dhoruri” bagi umat Islam[8].

Contoh dhoruriyyat dalam hal menjaga agama ialah disyaratkan akidah, asas-asas ibadat seperti solat, puasa, haji dan sebagainya. Cara menjaganya pula ialah dengan suruhan berdakwah kepada akidah tersebut, memfardhukan jihad, dan mengenakan hukuman terhadap orang yang murtad. Dalam hal menjaga nyawa pula disyariatkan tanggung jawab menjaga diri, larangan menjatuhkan diri ke arah kebinasaan dan mengenakan hukuman qisas terhadap si pembunuh. Dalam hal menjaga keturunan dan maruah pula disyariatkan perkahwinan dan pengharaman zina serta hukuman terhadap pelakunya. Dalam hal menjaga akal pula, disyariatkan belajar dan pengharaman setiap yang memabukkan serta hukuman terhadap peminum arak. Dalam hal menjaga harta, disyariatkan jual beli dan sebagainya dan pengharaman memakan harta orang lain dengan cara yang batil, pengharaman mencuri serta hukuman terhadapnya.

Takrif Hajiyyat[9]

Hajiyyat pula satu perkara yang sangat diperlukan oleh manusia untuk tujuan kesenangan dan menghilangkan kesusahan mereka, yang mana bila ia tiada, maka akan timbullah kesusahan dan masyaqqah. Tetapi kesusahan yang hasil daripada ketiadaan hajiyyat ini tidaklah sampai kepada tahap kesusahan yang terhasil dengan hilangnya dhoruriyyat tadi. Hajiyyat ini ada dalam semua keadaan samada ibadat, adat, muamalat dan juga jinayat. Contoh bagi hajiyyat dalam ibadat ialah rukhsah-rukhsah yang diberikan untuk memudahkan kita semua, seperti keharusan qasar solat dan sebagainya. Contoh dalam bukan ibadat pula ialah seperti diharuskan jual salam, tempahan dan seumpamanya. Juga diharuskan perceraian untuk melepaskan daripada ikatan perkahwinan yang musnah.

Takrif Tahsiniyyat[10]

Tahsiniyyat pula ialah satu perkara yang menjadikan kehidupan manusia berada dalam keadaan adab yang cukup tinggi dan akhlak yang baik, iaitu dengan mengambil perkara-perkara yang baik-baik daripada kehidupan dan meninggalkan benda-benda yang kotor yang tidak diterima oleh akal yang baik. Ia terkumpul dalam kemuliaan akhlak. Contoh bagi tahsiniyyat dalam ibadat ialah bersuci, menghilangkan najis, menutup aurat dan sebagainya. Ia juga terdapat dalam semua keadaan, samalah seperti dhoruriyyat dan juga hajiyyat. Berdasarkan keterangan ini, jelaslah wujudnya tingkatan dalam hukum-hukum taklif dalam Syariah Islam, dan ia bukanlah dalam satu peringkat yang sama, samada suruhan ataupun larangan.

Pelengkap Kepada Maslahah-Maslahah Yang TigaSetiap daripada maqasid yang tiga ini iaitu “dhoruriyyat”, “hajiyyat” dan “tahsiniyyat”, ada pelengkapnya yang diistilahkan sebagai “mukammil”. Pelengkap-pelengkap ini disyariatkan untuk mencapai maqasid-maqasid tersebut dengan penuh kesempurnaan dan mengukuhkan penjagaan terhadapnya. Kalaulah pelengkap ini tiada, maka ia tidaklah membawa kepada hilangnya maqasid tersebut, sekalipun ia mungkin menjejaskan kesempurnaan maqasid tersebut. Maqasid-maqasid ini sering juga disebut sebagai “mukammal” (yang dilengkapkan) bila digandingkan dengan pelengkap yang disebut sebagai “mukammil”.

Sebagai contoh, dalam perkara “dhoruriyyat”, disyariatkan azan dan solat berjemaah sebagai “mukammil” kepada asal pensyariatan solat. Setelah perkahwinan disyariatkan untuk menjaga nyawa dan keturunan, disyariatkan juga “kafa’ah” (persamaan taraf) antara pasangan suami isteri, sebagai “mukammil” kepada pensyariatan perkahwinan tersebut, dengan tujuan untuk lebih mengekalkan kebahagiaan mereka berdua, samalah seperti pensyariatan melihat kepada bakal pasangan. Pengharaman zina pula ialah alat untuk menjaga keturunan (dan juga maruah), maka disyariatkan juga pengharaman perkara-perkara yang boleh membawa kepadanya, sebagai “mukammil” kepada pengharaman zina tersebut. Kerana inilah Islam mengharamkan berdua-duaan dengan pasangan yang bukan mahram, pergaulan bebas, melihat kepada perempuan dengan syahwat dan sebagainya. Begitulah juga, setelah Syariah mengharamkan arak dan dikenakan hukuman hudud kepada peminumnya sebagai alat untuk menjaga akal, disyariatkan juga pengharaman kepada meminum sedikit (yang tidak memabukkan) daripada arak sebagai “mukammil” kepada pengharaman tadi. Pengharaman ini adalah sebagai penutup kepada pintu untuk meminum arak dengan banyak dan memabukkan.

Dalam masalah “hajiyyat”, setelah disyariatkan keharusan “qasar” solat dalam musafir dengan tujuan “taisir” (memudahkan), disyariatkan juga keharusan “jamak” (himpun) antara dua solat sebagai “mukammil” kepada asal “hajiyyat” tadi. Setelah disyariatkan keharusan akad hutang dan gadaian untuk tujuan “taisir”, disyariatkan juga penyaksian dan catitan bertulis kepada akad tersebut sebagai “mukammil” kepada asal “hajiyyat” tadi. Contoh “mukammil” bagi “tahsiniyyat” pula ialah seperti adab-adab bersuci, sunat-sunat “toharah”, bersedekah dengan yang terbaik daripada harta, menyembelih binatang yang terbaik dalam korban dan aqiqah dan sebagainya.
Kesemua “mukammil” ini adalah diiktibar (diambil kira) pada pandangan Syarak, dengan syarat ia tidaklah membatalkan asal “mukammal” tadi. Sebagai contoh, berjihad memerangi kafir yang menceroboh negara adalah termasuk dalam “dhoruriyyat” dan pemimpin yang mengepalai jihad juga adalah “dhoruriyyat”. Sikap “adil” bagi pemimpin adalah “mukammil” (pelengkap) kepada “dhoruriyyat” tadi. Kerana inilah kita tidak boleh meninggalkan jihad dengan alasan pemimpin merupakan seorang yang fasiq.

Memakai pakaian yang elok dan membersihkan diri untuk solat adalah “mukammil” kepada asal solat, tetapi solat tidaklah boleh ditinggalkan dengan alasan tiada pakaian yang elok dan tubuh yang kotor. Kerana inilah Syeikhul Maqasid Imam as-Syatibi menyatakan dalam kitabnya “al-Muwafaqat”[11]:
والمكمل إذا عاد للأصل بالإبطال لم يعتبر
Ertinya: “Dan “mukammil” (pelengkap) itu, jika ia boleh membawa kepada terbatalnya (hukum) asal (“mukammal”), maka ia tidaklah lagi diiktibar (diambil kira)”. Kesimpulannya, boleh kalau kita katakkan bahawa “hajiyyat” adalah “mukammil” bagi “dhoruriyyat” dan “tahsiniyyat” pula adalah “mukammil” bagi “hajiyyat”. Kerana ini jelaslah bahawa “dhoruriyyat” adalah asal (“mukammal”) bagi setiap hukum Syariah.

Takrif “Qawaid Maqasidiyyah”

Dalam membincangkan Syariah Islam, kita biasa mendengar tentang Qawaid Fiqhiyyah dan juga Qawaid Usuliyyah. Namun, kita mungkin jarang mendengar tentang “Qawaid Maqasidiyyah”. Qawaid ialah kata jamak kepada qaedah. Dan maksud qaedah ialah[12]:
قضية كلية منطبقة على جميع جزئياتها

Ertinya: Satu perkara yang berbentuk menyeluruh dan praktikal kepada semua perinciannya. Dr Abdul Rahman al-Kailani[13], yang telah menulis satu buku khusus tentang “Qawaid al-Maqasidiyyah”, telah mentakrifkannya sebagai[14]:

ما يعبر به عن معنى عام مستفاد من أدلة الشريعة المختلفة، اتجهت إرادة الشارع إلى إقامته من خلال ما بني عليه من أحكام

Ertinya: “Apa yang menggambarkan tentang satu tujuan umum yang diambil daripada dalil-dalil syarie, yang menunjukkan Syarak ingin menegakkannya berdasarkan apa yang diasaskan di atasnya daripada hukum hakam”. Maksudnya ialah “Qawaid Maqasidiyyah” adalah satu kaedah umum yang merangkumi semua bab, semua individu, semua masa dan semua keadaan, dan bukannya untuk bab dan keadaan tertentu sahaja. Ia menjurus kepada tujuan am, iaitu menghasilkan maslahah dan bukannya tujuan juz’iy kepada bab tertentu sahaja. Ia juga menunjukkan bahawa hukum-hukum taklif adalah alat yang disyariahkan oleh Syarak dengan tujuan menghasilkan maqasid Syariah (maslahah). Dan kesemua “Qawaid Maqasid” ini adalah bersumberkan kepada dalil-dalil Syarak seperti al-Qur’an, Hadis dan lain-lain.

Terdapat banyak “Qawaid Maqasid” Imam Syatibi dalam pelbagai kategori yang telah dikumpulkan oleh Dr Abdul Rahman al-Kailani dalam bukunya “Qawaid al-Maqasid Inda al-Imam as-Syatibi. Namun, yang kita akan bincangkan hanyalah “Qawaid Maqasid” bagi hukum perkiatan antara maqasid yang tiga.

Hukum Perkaitan Antara Maqasid Yang Tiga

Perkaitan antara tiga maqasid ini, iaitu “dhoruriyyat”, “hajiyyat” dan tahsiniyyat” telah disimpulkan oleh Imam Syatibi dalam lima qaedah daripada “Qawa’id Maqasidiyyah”. Berikut adalah qaedah-qaedah tersebut:-
1. إن الضروري أصل لما سواه من الحاجي والتحسيني
2. إن إختلال الضروري يلزم منه إختلال الباقيين بإطلاق
3. إنه لا يلزم من إختلال الباقيين إختلال الضروري
4. قد يلزم من إختلال التحسيني بإطلاق أو الحاجي بإطلاق إختلال الضروري بوجه ما
5. إنه ينبغي المحافظة على الحاجي وعلى التحسيني للضروري

1- Sesungguhnya “dhoruriy” itu adalah asal (asas) bagi selainnya, iaitu “hajiyy” dan “tahsiniyy”.
2- Sesungguhnya kecacatan “dhoruriyy” pasti akan membawa kepada kecacatan “hajiyy” dan “tahsiniyy” secara menyeluruh.
3- Tidaklah lazim (mesti) dengan kecacatan “hajiyy” dan “tahsiniyy” itu, kecacatan pada “dhoruriyy”.
4- Kemungkinan lazim daripada kecacatan keseluruhan “hajiyy” atau keseluruhan “tahsiniyy” itu kecacatan pada sebahagian “dhoruriyy”.
5- Perlunya memelihara “hajiyy” dan “tahsiniyy” untuk memelihara “dhorruriyy”.

Qaedah 1: Dhoruriyy adalah asas bagi selainnya, iaitu hajiyy dan tahsiniyy.إن الضروري أصل لما سواه من الحاجي والتحسيني

Huraian Qaedah: Qaedah ini menunjukkan kedudukan “dhoruriyy” yang merupakan asas kepada “hajiyy” dan “tahsiniyy”. Kemaslahatan dunia dan agama diasaskan di atas menjaga lima perkara asas“dhoruriyy”., iaitu agama, nyawa, akal, keturunan dan harta. Maka jika tiada agama, nescaya tiadalah balasan yang diharapkan, jikalau tiada mukallaf, nescaya tiadalah orang yang beragama. Jikalau tiada akal, tiadalah taklif beragama, dan jika tiada keturunan, maka tiadalah kekal kewujudan dan jika tiada harta, maka tiadalah kekal kehidupan. Kerana inilah dhoruriyy adalah asas segalanya. Qaedah ini juga menunjukkan bahawa kedua-dua “hajiyy” dan “tahsiniyy” adalah pelengkap kepada “dhoruri”. Sebagai contoh, menutup aurat merupakan termasuk dalam ‘tahsiniyy” , namun ia adalah pelengkap kepada menjaga keturunan dan maruah yang merupakan antara perkara asas “dhoruriyy’.

Contoh Praktikal Kepada Qaedah[15]:

Pertama: Apa yang telah disebutkan oleh sebahagain para fuqaha bahawa harusnya berubat dengan najis (yang bukan arak) jika pesakit tidak menjumpai satu ubat yang suci yang setanding dengan najis tersebut. Ini kerana meninggalkan menggunakan najis adalah termasuk dalam maslahah tahsiniyyah, manakala memelihara nyawa dan kesihatan merupakan “dhoruri”, atau sekurang-kurangnya “hajiyy”. Maka ia mesti didahulukan berbanding maslahah tahsiniyyah.

Kedua: Apa yang telah menjadi kata sepakat di kalangan para fuqaha harusnya bagi doktor untuk melihat kepada aurat pesakit atau menyentuhnya jika dengan tujuan perubatan. Ini kerana menjaga nyawa yang merupakan “dhoruriyy” yang mesti didahulukan berbanding menjaga auarat yang merupakan “tahsiniyy”.

Ketiga: Dalam masalah kenegaraan, maka qaedah ini boleh menjawab persoalan minoriti muslim di sebahagian Negara Eropah terutamanya di Amerika Selatan yang mewajibkan menamakan anak dengan nama Kristian. Di mana, orang yang menamakan anak dengan nama Islamik tidak akan mendapat sijil kelahiran dan keistimewaan warganegara seperti belajar dan sebagainya. Maka dalam masalah ini dibenarkan menggunakan nama-nama yang bukan Islamik, kerana ia adalah termasuk dalam “tahsiniyyat”, sedangkan menolak kesusahan dan masyaqqah adalah termasuk dalam “hajiyyat”. Dan yang terbaiknya adalah memilih nama-nama yang boleh diterima juga oleh agama Islam, seperti Abraham, Joseph, David dan sebagainya.

Keempat: Qaedah ini juga dapat menyelesaikan masalah minoriti Islam di beberapa Negara barat yang tidak membenarkan perkuburan khusus untuk kaum muslimin. Menanamkan mayat di perkuburan Islam merupakan “tahsiniyyat”, manakala menjaga kehormatan mayat pula termasuk dalam “hajiyyat”. Maka menanam mayat muslim di perkuburan yang sama dengan kaum Kristian adalah lebih baik berbanding membakar mayat, atau membiarkan mayat terbiar dan tidak dihormati. Dan yang terlebih utama adalah diasingkan antara tempat mayat Islam dengan mayat kaum Kristian, sekalipun dalam perkuburan yang sama.

Mendahulukan dhoruriyy berbanding hajiyy dan tahsiniyy ini merupakan asas yang dimabil daripada dalil-dalil syarak. Sebagai contoh, ayat 173 surah al-Baqarah yang membenarkan memakan daging babi, bangkai dan darah demi menjaga kelangsungan nyawa.
Dan perlu diingatkan juga, sekalipun qaedah ini menyebut bahawa dhoruriyy adalah asas kepada segala-galanya, namun kedudukan lima aspek penjagaan terhadap dhoruriyy bukanlah berada dalam satu kedudukan. Penjagaan terhadap agama merupakan prioriti berbanding dengan dengan yang lain. Seterusnya penjagaan terhadap nyawa.

Mendahulukan kedua-dua perkara ini merupakan perkara yang disepakati oleh para ulamak. Namun, mereka khilaf dalam menentukan susunan terhadap tiga perkara lagi. Imam Ghazali[16] menyebut susunannya ialah, menjaga agama, kemudian nyawa, kemudian akal, kemudian keturunan dan yang terkahir ialah menjaga harta. Namun susunan Imam al-Amidi[17] pula ialah menjaga agama, kemudian nyawa, kemudian keturunan, kemudian akal dan yang terakhir ialah harta. Dan inilah pandangan jumhur ulamak. Penjagaan terhadap keturunan didahulukan berbanding penjagaan terhadap akal, kerana penjagaan terhadap akal merupakan cabangan kepada penjagaan terhadap nyawa dan keturunan.
Dan banyak hukum-hakam yang mana dalilnya adalah perbandingan antara susunan perbezaan lima perkara asas dhoruriyy ini. antara contohnya ialah[18]:

Pertama: Jika seseorang terpaksa memakan harta orang lain demi kelangsungan nyawanya, maka ia diharuskan memakannya. Ini kerana maslahah menjaga nyawa didahulukan daripada menjaga harta.

Kedua: Jika terpaksa meminum arak demi menjaga nyawa, maka harus meminumnya. Ini kerana menjaga nyawa didahulukan daripada menjaga akal. Tambahan lagi, kehilangan nyawa adalah satu perkara yang berkekalan, berbeza dengan kehilangan akal, maka ia bukanlah satu perkara yang kekal.

Ketiga: Kalaulah orang Islam dikepung oleh para musuh kuffar, dan mereka sudah tidak mampu melawan mereka, maka diharuskan membayar kepada musuh kuffar dengan harta sebagai cara untuk menyelamatkan nyawa kaum muslimin. Ini kerana penjagaan terhadap nyawa didahulukan daripada penjagaan terhadap harta.

Qaedah 2: Sesungguhnya kecacatan “dhoruriyy” pasti akan membawa kepada kecacatan “hajiyy” dan “tahsiniyy” secara menyeluruh.

إن إختلال الضروري يلزم منه إختلال الباقيين بإطلاق

Sesungguhnya hajiyy dan tahsiniyy itu merupakan pelengkap kepada dhoruriyy, samada sebagai satu sifat tambahan kepadanya atau pun satu juzuk yang kecil daripadanya. Maka sudah tentu, lazim daripada ketiadaannya, ketiadaan hajiyy dan tahsiniyy, kerana perkara asal bila sudah tiada, nescaya ketiadaan pelengkapnya adalah lebih utama. Sebagai contoh, bila Syariah menggugurkan kewajiban solat kepada perempuan yang kedatangan haid, maka sudah tentu gugurlah daripadanya tuntutan menutup aurat dalam solat, tuntutan menghadap kiblat, tuntutan takbir, tuntutan zikir-zikir sunat seperti zikir rukuk, sujud, dan sebagainya. Gugur jugalah tuntutan berwuduk dan adab-adabnya. Kerana inilah dikatakan bahawa “mukammil” akan gugur dengan gugurnya “mukammal” dan “wasilah” akan gugur dengan gugurnya tujuannya, melainkan ada dalil yang lain yang mengiktibarkannya.

Qaedah 3: Tidaklah lazim (mesti) dengan kecacatan “hajiyy” dan “tahsiniyy” itu, kecacatan pada “dhoruriyy”.

إنه لا يلزم من إختلال الباقيين إختلال الضروري

Sesungguhnya hajiyy dan tahsiniyy merupakan mukammil (pelengkap) kepada dhoruriyy. Maka sudah pun maklum bahawa tidak semestinya hilangnya sebahagian pelengkap kepada sesuatu perkara, hilangnya asas perkara tersebut. Contohnya, zikir-zikir dalam solat. Kalaulah solat dilakukan tanpa membaca zikir-zikir yang sunat, solat itu masih sah dan diiktibar. Begitulah halnya dengan bahawa Syariah mengambil kira bahawa wajibnya ternafi kejahilan dengan perkara jual beli, maka kecacatan pada perkara tersebut (kejahilan), tidaklah boleh menafikan keseluruhan akad jual beli. Kerana inilah dikira sah jual beli buah-buahan yang masih di dalam kulitnya seperti durian, manggis dan sebagainya, sekalipun kejahilan terhadap perkara yang diakadkan itu tidaklah ternafi sepenuhnya. Juga dikira sah (harus) mengambil wang daripada pengguna tandas persendirian, (sebagaimana adat yang ada sekarang) sekalipun tidak diketahui dengan jelas kadar air yang digunakannya.

Qaedah 4: Kemungkinan lazim daripada kecacatan keseluruhan “hajiyy” atau keseluruhan “tahsiniyy” itu kecacatan pada sebahagian “dhoruriyy”.

قد يلزم من إختلال التحسيني بإطلاق أو الحاجي بإطلاق إختلال الضروري بوجه ما

Hajiyy dan tahsiniyy merupakan mukammil kepada dhoruriyy. Maka jika berlaku kecacatan kepada keseluruhan hajiyy dan tahsiniyy, maka lazimlah daripadanya kecacatan kepada sebahagian dhoruriyy, kerana ketiadaan pelengkapnya. Kedua-duanya juga adalah mukammil yang mencantikkan dhoruriyy, samada menjadi muqaddimah kepadanya, berada bersama dengannya atau berada selepasnya. Maka dengan luputnya keseluruhan kedua-duanya, maka sudah tentu mencacatkan dhoruriyy sekalipun tidak menghilangkan asal dhoruriyy. Sebagai contoh, seorang yang bersolat dengan hanya melakukan rukun-rukun sahaja dan meninggalkan keseluruhan sunat, maka solatnya itu adalah lebih dekat kepada main-main. Maka ia telah sedikit sebanyak mencacatkan “dhoruriyy”. Dan setiap darjat daripada tiga maqasid ini boleh diumpamakan sebagai sunat dengan fardu bagi darjat yang lebih penting daripadanya. Keberanian membatalkan keseleruhan mukammil (hajiyy dan tahsiniyy) adalah tanda kesediaan untuk membatalkan mukammal (iaitu dhoruriyy), kerana inilah dikatakan ia boleh mencacatkan dhoruriyy. Tambahan lagi keseleruhan hajiyy dan tahsiniyy adalah seperti satu bahagian daripada bahagian-bahagian dhoruriyy.

Dan satu perkara yang menarik yang telah diberikan perhatian oleh Imam Syatibi yang berkaitan dengan qaedah yang kita bincangkan ini ialah apa yang disebutkan oleh Imam Syatibi mengenai kaitan antara hukum harus, sunat dan makruh dan kaitannya dengan maqasid Syariah. Di mana beliau melihat bahawa sekalipun perintah pada hukum tersebut bukanlah satu perkara mesti seperti wajib dan haram, namun kadang-kadang ia juga adalah dituntut dengan pasti dengan melihat kepada perkara tersebut secara keseluruhan. Ini kerana ia adalah alat dan pelengkap kepada “dhoruriyy”. Sebagai contoh, makan dan minum adalah perkara yang harus. Seseorang itu boleh memilih untuk makan dan minum atau meninggalkannya. Namun jika ditinggalkannya secara keseluruhan, seperti orang yang mogok lapar, sehingga boleh membawa kepada merosakkan penjagaan kepada nyawa, dan merosakkan diri sendiri, maka ia adalah diharamkan. Ini menguatkan lagi qaedah ini.

Qaedah 5: Perlunya memelihara Hajiyy dan Tahsiniyy untuk memelihara Dhoruriyy

إنه ينبغي المحافظة على الحاجي وعلى التحسيني للضروري

Penerangaan bagi qaeadah ini adalah jelas dengan penerangan-penerangan terhadap qaedah-qaedah yang lepas. Ini kerana, kalaulah dhoruriyy boleh cacat dengan sebab cacatnya mukammilnya (pelengkapnya), maka sudah tentu menjaga mukammil ini daripada kecacatan adalah perlu dengan tujuan untuk menjaga mukammalnya (dhoruriyy). Juga kerana hajiyy dan tahsiniyy adalah pelengkap dan perhiasan bagi dhoruriyy, yang mana tidak akan nampak kecantikan dhoruriyy itu melainkan dengannya, maka sudah tentulah, perlunya ia dijaga dan tidak diabaikan. Qawaid ini boleh menolak pendapat mereka yang hanya menitik beratkan dhoruriyy, tetapi mengabaikan hajiyy dan tahsiniyy. Sedangkan kecacatan pada hajiyy dan tahsiniyy sebenarnya juga member kesan kepada dhoruriyy.

Antara contoh kepada qaedah ini ialah perlunya kita mematuhi peraturan jalan raya, sekalipun ia nampak kecil kerana pengabaian kepada boleh merosakkan penjagaan terhadap menjaga nyawa dan juga harta. Juga kita perlu menjaga cara berpakaian dan mengelakkan pergaulan bebas antara lelaki dan perempuan kerana mengabaikannya boleh merosakkan penjagaan terhadap maruah dan juga keturunan. Kita juga perlu mengelakkan daripada keterlaluan dalam bergurau senda kerana ia boleh merosakkan penjagaan terhadap agama. Juga perlu mengelakkan daripada menonton filem-filem lucah kerana ia boleh merosakkan penjagaan terhadap akal dan juga maruah dan keturunan.

Inilah lima Qawa’id Maqasidiyyah yang disebutkan oleh Imam as-Syatibi dalam kitabnya al-Muwafaqat berkaitan antara maqasid yang tiga, iaitu dhoruriyy, hajiyy adan tahsiniyy. Ia menunjukkan perkaitan yang rapat antara ketiga-tiga maqasid tersebut, sekalipun kedudukannya adalah berbeza. Dhoruriyy yang merupakan asas mempunyai kaitan yang begitu rapat dengan hajiyyat dan tahsiniyyat, sekalipun kedua-duanya adalah lebih rendah berbanding dhoruriyy. Penjagaan kepada dhoruriyy mestilah dilengkapkan dengan penjagaan terhadap hajiyy dan tahsiniyy. Peranan qawaid maqasid ini juga amat penting dalam menentukan kesahihan sesuatu hukum, terutamanya bila berlaku pertembungan antara dua maqasid. Kerana itu ia mesti dilihat oleh para fuqaha’ dalam mengeluarkan hukum. Selain itu, Qawaid Maqasid ini juga menunjukkan kehebatan Imam Syatibi yang menjelmakannya, kerana ia diasaskan kepada dalil-dalil syarak dan berbentuk menyeluruh yang boleh dipraktikkan dalam pelbagai situasi dan keadaan, demi mencapai maqasid asal Syariah iaitu mencapai maslahah dan menolak mafsadah.


--------------------------------------------------------------------------------

[1] Artikel ini adalah kertas kerja sisipan sempena Seminar Maqasid Syariah Dalam Pentadbiran Negara peringkat kebangsaan yang diadakan di salah sebuah hotel di Kota Bharu, anjuran Jabatan Syariah KIAS dengan kerjasama JHEAIK pada 13 julai 2009.

[2] Al-Raisuni, Dr. Ahmad, Nazariyyatul Maqasid Inda al-Imam as-Syatibi, The International Institute Of Islamic Thought,Virginia, Amerika Syarikat, edisi 4, hal 19.

[3] Syatibi, al-Muwafaqat,Dar al-Makrifah, Beirut, juz 2, hal 8.

[4] Beliau merupakan seorang sarjana dari Sudan dan merupakan Dekan Kuliah al-Qur’an di Khourtom, Sudan. Bukunya “Al-Maqasid Al-Ammah Li as-Syariah al-Islamiyyah” pada asalnya merupakan risalah phD beliau yang dikemukakan di Universiti Azhar sekitar tahun 1971.

[5] Dr. Yusof al-Alim, Al-Maqasid al-Ammah Li al-Syariah al-Islamiyyah, International Islamic Publishing House, Riyadh, Arab Saudi, edisi 2, hal: 155.

[6] As-Syatibi, al-Muwafaqat, juz 2, hal 49.

[7] As-Syatibi, al-Muwafaqat, juz 2, hal 8.

[8] As-Syatibi, al-Muwafaqat, juz 1, hal 38.

[9] As-Syatibi, al-Muwafaqat, juz 2, hal 10.

[10] As-Syatibi, al-Muwafaqat, juz 2, hal 11.

[11] As-Syatibi: al-Muwafaqat, juz 2, hal 15.
[12] Al-Jurjani, Ali bin Muhammad bin Ali, al-Ta’rifat, Dar al-Kitab al-Arabi, Beirut, edisi 1, 1405H, hal: 219.

[13] Beliau ialah seorang sarjana Jordan dan merupakan seorang pensyarah di Kuliah Syariah, Universiti Mu’tah, Jordan Dilahirkan pada 1970. Beliau memfokuskan kajian mengenai Maqasid dan Imam Syatibi di peringkat sarjana dan juga phD. Dan beliau merupakan guru saya dan saya rasa bangga dan bersyukur kerana banyak menimba ilmu dengan beliau, samada secara kuliah di Universiti dan juga pengajian masjid. Daripada beliaulah saya mengenali ilmu Maqasid ini.

[14] Al-Kailani, Dr Abdul Rahman, Qawaid al-Maqasid Inda al-Imam as-Syatibi, Dar al-Fikr, Damsyik, Suria, edisi 1, 2000, hal: 55.

[15] Lihat perbincangan contoh-contoh ini dengan panjang lebar dalam Qawaid al-Maqasid, Dr. Al-Kailani, hal 208-211.

[16] Beliau ialah Hujjathul Islam Abu Hamid al-Ghazali. Meninggal 505H. Antara bukunya yang membincangkan mengenai maqasid ialah Syifa’ al-Ghalil dan al-Mustasfa.

[17] Beliau ialah Saif al-Din al-Amidi. Meninggal 631H. Bukunya yang membincangkan tentang maqasid ialah al-Ihkam Fi Usul al-Ahkam.

[18] Lihat perbincangan contoh-contoh ini dalam Qawaid al-Maqasid, Dr. Al-Kailani, hal 212-213.



sumber:tasekpauh.blogspot.com

SAMPAIKAN WALAU SATU AYAT

Sila gunakan browser firefox untuk melayari blog ini dengan sempurna. terima kasih


Assalamualaikum.. bismillahirahmanirahim.

" Segala bahan didalam blog ini di ambil, di olah dan ditulis dari pelbagai sumber. Kepada yang ingin mengambil apa2 jua bahan dalam blog ini dengan niat untuk mengembangsebarkan ilmu, tidak perlu meminta izin atau menyertakan link blog ini. Sebarkan dan panjangkanlah kepada semua demi kebaikkan ummah. Semoga info yang ada dapat memberi manfaat walaupun sedikit cuma, dan semoga dengan usaha sekecil ini pastinya tidak akan terlepas dari pandangan Allah.. insyaAllah.. Jika ada kesilapan dari setiap posting, tolong berikan nasihat dan komen. Maaf andai terlancar bahasa tersasar kata-kata. Saya hanya insan biasa yang tidak sunyi dari kesilapan. wallahualam."

PERHATIAN!!! BLOG INI TIDAK MEWAKILI MANA-MANA PARTI , NGO DAN SEBAGAINYA. SEGALA TULISAN DI ISI MENGIKUT CITARASA HAMBA SENDIRI DAN HAMBA TIDAK BERTANGGUNGJAWAB ATAS KESELAMATAN DAN KERUGIAN PEMBACA DISEBABKAN BLOG INI..... SEKIAN

PERHATIAN !!!!!!

Sebarang artikle yang termaktub di dalam blog ini tidak semestinya menunjukkan sikap pengendali blog ini. Ambillah yang berfaedah dan tinggalkanlah yang sia - sia........

MENGAPA AKU BERKATA SYIAH RAFIDAH KAFIR ?

Sesungguhnya Allah telah memilih sahabat-sahabat untuk ku, Dia menjadikan mereka sebagai sahabat-sahabatku, mertua-mertuaku dan menantu-menantuku. Nanti akan muncul satu golongan selepas aku akan memburuk-buruk dan memaki hamun mereka.Sekiranya kamu menemui mereka, janganlah kamu mengahwini mereka, janganlah kamu makan dan minum bersama mereka, janganlah kamu berjemaah bersama mereka dan jangan kamu menyembahyangkan jenazah mereka. [Ali al-Muttaqi, Kanz al-‘Ummal, jil 11, m.s : 540 ]

Sabda Rasulullah S.A.W:

Sabda Rasulullah S.A.W:“Tahukah kamu siapakah orang yang muflis?” Jawab mereka: “Orang yang muflis dalam kalangan kami ialah sesiapa yang tiada dirham dan tiada harta”. Sabda baginda: “Orang yang muflis dalam umatku ialah sesiapa yang datang pada Hari Kiamat nanti bersama solat, puasa, zakat, juga dia pernah memaki seseorang, menuduh seseorang, memakan harta seseorang, menumpah darah seseorang dan memukul seseorang. Lalu diberikan kepada orang ini dan itu pahalanya. Jika pahala-pahalanya habis sebelum sempat dilangsaikan kesalahannya, maka diambil dosa-dosa mereka dicampakkan ke atasnya lantas dicampakkan dia ke dalam neraka” (Riwayat Muslim).



Al - Hadis

DARIPADA Abu Said katanya:
Aku mendengar Rasulullah (s.a.w.) bersabda: siapa yang melihat (dan tahu) sebarang kemungkaran, maka hendaklah diubahkannya dengan tangannya (kuasanya), kalau tidak berkuasa, maka (ubahlah) dengan lidahnya, dan kalau tidak mampu juga, maka ubahlah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman (HR Muslim).

KUTIPAN DANA BAGI PEMBANGUNAN SRIBU

KUTIPAN DANA BAGI PEMBANGUNAN SRIBU
Hadis nabi saw : apabila matinya anak adam maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga... yaitu sadhoqah jariah , ilmu yang memberi manfaat dengannya , doa anak yang soleh.

WAKTU SOLAT


Membangun Bersama Islam

Kisah Sahabat

About Me


Banner Tukar Link
SPEEDCOUNTER.NET - Kostenloser Counter!

"tegakkanlah islam dalam dirimu,nescaya kamu akan melihat islam tertegak di tanah airmu" - Imam As-Syahid Hassan Al-Banna (Pengasas&Mursyidul Am Pertama Ikhwanul Muslimin)

berwaspada dari fitnah moden

berwaspada dari fitnah moden

Tok guru Nik Aziz

Tok guru Nik Aziz

Tok guru Haji saleh

Tok guru Haji saleh

Recent Comments

Footer 2

Photobucket

linkwithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Translate