YANG MASIH PANAS...

Bertaubatlah, Karena Pintu Ampunan Allah Terbuka Lebar


Oleh, Syekh DR. Aidh al-Qarni

MANAKALA seorang hamba berbuat dosa, durhaka, kesalahan atau keburukan, Allah berfirman kepadanya, “Wahai hamba-Ku, kembalilah kepada-Ku. Bertaubatalah niscaya Aku akan mengampunimu.”

Allah Ta’ala telah berfirman dalam Kitab-Nya :

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar [39] : 53)

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat Allah, lalu memohon amun atas dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah”. (QS. Ali-Imran [3] : 135)

Tiada yang memaafkan kekurangan-kekurangan, kecuali hanya Allah, dan tiada yang mengampuni dosa-dosa, selain hanya Allah.

وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”(QS. Ali-Imran [3] : 135)

Wahai saduraku yang muslim, yang bertaubat, lagi kembali ke jalan-Nya, berikuti ini sebua berita dari Rasulullahshallahu alaihi wa sallam, pembawa hidyah yang di dalamnya diceritakan kisah tentang seorang lekaki yang hidup pada masa silam. Lelaki tersebut telah melakukan dosa yang sangat jelas dan kekeliruan yang fatal serta mengerjakan suatu kejahatan yang paling besar dalam sejarah umat manusia.

Dalam sebuah hadist yang dikategorikan oleh Bukhari dan Muslim secara sepakat disebutkan bahwa dahulu di kalangan orang-orang yang sebelum kalian —yakni kaum Bani Israel— ada seorang lelaki yang telah membunuh 99 orang.

Lekaki ini telah berlumuran darah. Jari-jemarinya, pakaiannya, tangan, dan pedangnya, semuanya basah oleh darah, karena telah membunuh 99 orang dari kalangan orang-orang yang jiwanya terpelihara.

Padahal seandainya semua penduduk bumi dan penduduk langit bersatu padu untuk membunuh lelaki muslim, tentulah Allah akan mencampakkan mereka semua dengan mukadi bawah ke dalam Neraka. Maka terlebih lagi dengan seseorang yang datang dengan pedang yang terhunus, sikap yang kejam, jahat, lagi emosi, akhirnya dia membunuh 99 orang.

Lelaki pelaku kejahatan ini telah melumuri dirinya dengan darah banyak orang dan membinasakan banyak jiwa yang diharamkan oleh Allah membunuhnya serta mencabut nyawa mereka. Sesudah dirinya berlumuran dengan kejahatan dan dosa besar ini, ia menyadari kesalahannya terhadap Allah.

Ia pun berpikir tentang pertemuannya dengan Allah nanti, teringat saat hari kedatangannya kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan semua dosanya. Dia menyakini bahwa tiada yang mengampuni dosanya, yag menghukumnya, yang menghisabnya, dan yang membenci seorang hamba karena dosa, kecuali Allah Ta’ala.

“Selanjutnya, ia berpikir untuk kembali dan bertaubat kepada-Nya agar Dia membebaskannya dari neraka.


Sesungguhnya para raja pun,


bila budak-budaknya telah beruban dalam perbudakannya, mereka pasti akan memerdekannya, dengan pembebasan yang baik,


Dan Engkau, wahai penciptaku jauh lebih murah daripada itu,


Sekarang sungguh aku telah beruban dalam penghambaan diri,


maka bebaskanlah diriku dari Neraka”.


Maka keluarlah ia dengan pakaian yang berlumuran darah, sedang pedangnya masih meneteskan darah segar dan jari-jemarinya berbelepotan darah. Ia datang bagaikan seorang yang mabuk, terkejut, lagi ketakutan seraya bertanya-tanya kepada semua orang, “Apakah aku masih bisa diampuni?”

Dia menyadari bahwa tiada yang dapat memeri fatwa dalam masalah ini, kecuali hanhya orang-orang yang ahli dalam hukum Allah. Ia pun pergi ke sana, ke tempt rahib itu, seorang ahli ibadah dari kalangan kaum Bani Israel yang belum pernah merasakan manisnya limu dan tidak pernah membekali dirinya dengan pengetahuan, penelitian, dan penguasaan terhadap masalah-masalah agama. Dia hanya melakukan ibadahnya menurut tata cara yang dibuat-buatnya sendiri tanpa ada dalil, baik dari syariat maupun agama.

وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا ۖ

“Dan mereka mengada-adakan kerahiban, padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestina.” (QS. Al-Hadid [57] : 27)

Sesungguhnya agama itu bila tidak dibarengi dengan cahaya hidayah dan ilmu sama dengan kesesatan dan bid’ah yang bertumpang-tindih antara yang satu dan yang lainnya.

Ia pun pergi dengan langkah yang cepat dengan penuh penyesalan, karena dosa-dosanya yang telah dilakukan, lalu ia mengetuk pintu kuil si rahib itu.

Rahib itu mengharamkan atas dirinya daging, makanan yang baik, pakaian yang baik, dan kawin itu, padahal Allah tidak mengharamkan semuanya itu atas dirinya. Dia lakukan hal itu, karena kejahilannya tentang maksud AllahTa’ala. Ia pun keluar menyambutnya.

Lelaki penjahat ini masuk dan ternyata pakaiannya masih berlumuran arah segar, membuat si rahib kaget, dan terkejut bukan kepalang. Si rahib berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari kejahatanmu”.

Sambutan ini jelas bukan tata cara yang biasa digunakan oleh para ulama dan para da’i yang menghendaki hidayah bagi manusia, karena pintu Allah selalu terbuka, pemberiannya senantiasa datang dan pergi, pahala-Nya senantiasa terbuka pada malam hari untuk menerima taubat orang-orang yang berdosa pada siang harinya, dan senantiasa terbuka pada siang hari untuk menerima taubat orang-orang yang berdoa pada malam harinya, hingga matahari terbit dari arah tenggelamnya (hari Kiamat).

Si penjahat bertanya, “Wahai rahib ahli ibadah, aku telah membunuh 99 orang, maka masih adakah jalan bagiku untuk bertaubat?” Rahib jahil itu menjawab, “Tiada taubat bagimu”.

Mahasuci Allah, apakah engkau menutup pintu yang selalu dibuka oleh Allah? Apakah engkau memutuskan tali yang telah dijulurkan oleh Allah? Apakah engkau mencegah hujan yang telah dirutunkan oleh Allah? Apakah engkau menutup jalan masuk yang telah Allah buat?

Padahal Allahlah yang menciptakan. Allah lah yang telah menetapkan, Allah yang memberikan ampunan, Allahlah yang menghisab, Allahlah yang berbisik kepada seorang hamba pada hari yang tiada bermanfaat lagi harta benda dan anak-anak, kecuali orang yang bersih, lalu Allah menyuruhnya mengakui dosa-dosanya, kemudian Allah mengampuninya, jika Dia menghendaki. Maka apakah urusanmu, hari rahib, sehingga engkau ikut campur dalam urusan antara para hamba dengan Tuhannya.

Apakah engkau memang seorang yang ahli untuk memberi fatwa dalam masalah ini? Bukan, engkau bukanlah seorang yang ahli dalam bidang ini. Hal ini hanya bisa ditangani oleh para ulama yang mengamalkan ilmunya lagi mengetahui tujuan syari’at-Nya.

Akhirnya si penjahat ini putus asa memandang kehidupan ini. Di matanya dunia ini terasa gelap, kehendak dan tekadanya melemah, dan keindahan yang terlihat diwajahnya menjadi buruk. Ia pengangkat pedangnya dan membunuh rahib ini, sebagai balasan yang setimpal untuk guna menggenapkan 100 orang manusia yang telah dibunuh.

Selanjutnya, ia keluar menemui orang-orang guna menanyakan kembali mereka, bukan karena alasan apapun, melainkan karena jiwanya sangat menginginkan untuk taubat dan kembali ke jalan Tuhannya ser ta menghadap kepada-Nya. Ia bertanya kepada mereka, “Masih adakah jalan untuk bertaubat bagiku?”

Sehubungan dengan pengertian ini, Allah Ta’ala menegaskan dalam firman-Nya :

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yagn menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu).” (QS. Ali-Imran [3] : 18)

Si penjahat itu pergi dan menemui orang alim itu, yang berada di dalam majelisnya sedang mengajari generasi dan mendidik umat.

Orang alim itu pun tersenyum menyambut kedatangannya, begitu melihatnya, ia langsung menyambutnya dengan hangatdan mendudukkannya di sebelahnya setelah memeluk dan menghormatinya. Ia bertanya, “Apakah keperluanmu datang ke mari?” Ia menjawab, “Aku telah membunuh 100 orang yang terpelihara darahnya, maka masih adakah jalan taubat bagiku?”.

Orang alim itu balik bertanya, “Lalu siapakah yang menghalang-halangi antara kamu dengan taubat dan siapakah yang mencegahmu dari melakukan taubat? Pintu Allah terbuka lebar bagimu, maka bergembiralah dengan ampunan, “Bergembiralah dengan perkenan dariNya dan bergembiralah dengan taubat yang mulus”. Ia berkata, “Aku kepada Allah semoga Dia menerima taubatmu”.

Orang alim itu berkata kepadanya, “Sesungguhnya engkau tinggal di kampung yang jahat, karena sebagian kampung dan sebagian kota itu adakalanya memberikan pengaruh untuk berbuat kedurhakaan dan kejahatan bagi pra penghuninya. Barangsiapa lemah imannya ditempat seperti ini, maka ia akan mudah berbuat durhaka dan terasa ringanlah baginya semua dosa, serta menggampangkannya untuk melakukan tindakan menentang Tuhannya.”Wallahu’alam

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

SAMPAIKAN WALAU SATU AYAT

Sila gunakan browser firefox untuk melayari blog ini dengan sempurna. terima kasih


Assalamualaikum.. bismillahirahmanirahim.

" Segala bahan didalam blog ini di ambil, di olah dan ditulis dari pelbagai sumber. Kepada yang ingin mengambil apa2 jua bahan dalam blog ini dengan niat untuk mengembangsebarkan ilmu, tidak perlu meminta izin atau menyertakan link blog ini. Sebarkan dan panjangkanlah kepada semua demi kebaikkan ummah. Semoga info yang ada dapat memberi manfaat walaupun sedikit cuma, dan semoga dengan usaha sekecil ini pastinya tidak akan terlepas dari pandangan Allah.. insyaAllah.. Jika ada kesilapan dari setiap posting, tolong berikan nasihat dan komen. Maaf andai terlancar bahasa tersasar kata-kata. Saya hanya insan biasa yang tidak sunyi dari kesilapan. wallahualam."

PERHATIAN!!! BLOG INI TIDAK MEWAKILI MANA-MANA PARTI , NGO DAN SEBAGAINYA. SEGALA TULISAN DI ISI MENGIKUT CITARASA HAMBA SENDIRI DAN HAMBA TIDAK BERTANGGUNGJAWAB ATAS KESELAMATAN DAN KERUGIAN PEMBACA DISEBABKAN BLOG INI..... SEKIAN

PERHATIAN !!!!!!

Sebarang artikle yang termaktub di dalam blog ini tidak semestinya menunjukkan sikap pengendali blog ini. Ambillah yang berfaedah dan tinggalkanlah yang sia - sia........

MENGAPA AKU BERKATA SYIAH RAFIDAH KAFIR ?

Sesungguhnya Allah telah memilih sahabat-sahabat untuk ku, Dia menjadikan mereka sebagai sahabat-sahabatku, mertua-mertuaku dan menantu-menantuku. Nanti akan muncul satu golongan selepas aku akan memburuk-buruk dan memaki hamun mereka.Sekiranya kamu menemui mereka, janganlah kamu mengahwini mereka, janganlah kamu makan dan minum bersama mereka, janganlah kamu berjemaah bersama mereka dan jangan kamu menyembahyangkan jenazah mereka. [Ali al-Muttaqi, Kanz al-‘Ummal, jil 11, m.s : 540 ]

Sabda Rasulullah S.A.W:

Sabda Rasulullah S.A.W:“Tahukah kamu siapakah orang yang muflis?” Jawab mereka: “Orang yang muflis dalam kalangan kami ialah sesiapa yang tiada dirham dan tiada harta”. Sabda baginda: “Orang yang muflis dalam umatku ialah sesiapa yang datang pada Hari Kiamat nanti bersama solat, puasa, zakat, juga dia pernah memaki seseorang, menuduh seseorang, memakan harta seseorang, menumpah darah seseorang dan memukul seseorang. Lalu diberikan kepada orang ini dan itu pahalanya. Jika pahala-pahalanya habis sebelum sempat dilangsaikan kesalahannya, maka diambil dosa-dosa mereka dicampakkan ke atasnya lantas dicampakkan dia ke dalam neraka” (Riwayat Muslim).



Al - Hadis

DARIPADA Abu Said katanya:
Aku mendengar Rasulullah (s.a.w.) bersabda: siapa yang melihat (dan tahu) sebarang kemungkaran, maka hendaklah diubahkannya dengan tangannya (kuasanya), kalau tidak berkuasa, maka (ubahlah) dengan lidahnya, dan kalau tidak mampu juga, maka ubahlah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman (HR Muslim).

KUTIPAN DANA BAGI PEMBANGUNAN SRIBU

KUTIPAN DANA BAGI PEMBANGUNAN SRIBU
Hadis nabi saw : apabila matinya anak adam maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga... yaitu sadhoqah jariah , ilmu yang memberi manfaat dengannya , doa anak yang soleh.

WAKTU SOLAT

Membangun Bersama Islam

Blog Archive


"tegakkanlah islam dalam dirimu,nescaya kamu akan melihat islam tertegak di tanah airmu" - Imam As-Syahid Hassan Al-Banna (Pengasas&Mursyidul Am Pertama Ikhwanul Muslimin)

berwaspada dari fitnah moden

berwaspada dari fitnah moden

Tok guru Nik Aziz

Tok guru Nik Aziz

Tok guru Haji saleh

Tok guru Haji saleh

Recent Comments

Footer 2

linkwithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Ikut Melalui Email

Translate